REVISI MAKALAH
HINDUISME
Topik VI: Sumber-sumber pokok
Dipresentasikan pada tanggal 11 Oktober 2012
Di buat untuk memenuhi syarat perkuliahan
Mata kuliah Hinduisme
ENIS KHAERUNISA
1111032100021
FAKULTAS USHULUDDIN
PRODI PERBANDINGAN AGAMA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
A. Pendahuluan
Kitab-kitab suci Hindu secara luas dalam dikelompokkan dalam 2 golongan. Pertama adalah Sruti (“itu yang didengar”) dan yang lain adalah Smriti (“itu yang diingat”). Kedua kelompok kitab-kitab suci ini dianggap “wahyu Tuhan” sama seperti semua kitab-kitab Injil dianggap mendapat inspirasi Tuhan.
B. Kitab Suci
Kitab suci Hindu ditulis dalam kurun waktu berabad-abad dan menggunakan berbagai bentuk tulisan. Kitab-kitab suci itu meliputi teks-teks filsafat yang sulit dimengerti sampai dengan legenda-legenda dan cerita-cerita kepahlawanan.
Kitab Hinduisme dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu kitab-kitab shruti dan kitab-kitab Smriti, adapun kpenjelasan kitab-kitab tersebut adalah:
1. Shruti
Shruti (yang didengar) di anggap sebagai yang suci yang berada di dalam asal usul segala sesuatu. Kitab-kitab Shruti berisi pujian-pujian kuno dari kitab Veda, yang ditulis pada akhir milenium kedua BCE dalam bahasa sansekerta, bahasa India kuno. Rig Veda, kitab yang paling kuno dan paling suci, adalah kitab yang berisi 1.028 puisi yang merefleksikan kehidupan pengembaraan bangsa aria yang berperang, yang bergembira karena terbitnya matahari setiap pagi dan yang merefleksikan heningnya malam sunyi.
Kitab-kitab Upanishad adalah bagian terakhir dari kitab-kitab Veda. Judul kitab itu mengacu pada murid yang duduk di laki-laki guru untuk mendapatkan kebijakan kitab-kitab Upanishad memuat 120 percakapan antara guru dan muridnya serta berisi semua ajaran Hindu yang paling penting-yaitu mengenai Brahman dan atman.
C. Smriti
Kitab-kitab Smiriti (yang diingat) adalah kitab-kitab suci tentang asal-usul manusia. Kitab suci itu berisi cerita rakyat yang cerita rakyat yang diceritakan oleh penutur-penutur terlatih. Ramayana, kitab yang memuat 48.000 baris puisi, memceritakan kisah rama dan shinta serta merpakan sumber ajaran dan nasihat spiritual yang besar bagi orang Hindu. Yakni setiap tradisi (ucapan, perbuatan, tulisan). Yang mengandung ajaran seseorang rishi (orang suci) atau ajaran seseorang acharya (guru) ataupun ajaran avatar (interaksi-ilahi) seumpama Krishna dan lainnya didalam himpunan Smiriti itu termasuk Brahmanas,panishads, mahabhara, Bhagavadgita, Ramayana, Purana, dll.
yang termasuk golongan kedua itu pada masa belakangan memalui wewenang-resmi dinyatakan kitab-suci guna mengahmbat sesuatu tantangan ataupun keraguan-raguan. Dengan begitu kedudukan Smiriti itu disamakan dengan kedudukan Sruti.
Kitab itu dipanggil dengan Brahma-sutras, yakni benang sulam melalui himpunan Brahmanas. Kitab-kitab berisikan komentar itu disusun oleh para acharyas pada abad-abad menjelang dan sesudah tahun masehi.
Disamping itu lahir kesusasteraan yang mengambil themanya dari keyakinan agamawi ataupun sesuatu ajaran agamawi mengenai masalah kehidupan dan kemasyarakatan, dan kitab-kitab golongan itu dipanggilkan dengan Brahmana-shastras. yang Termasuk dalam golongan Brama-shastras itu ialah kitab-kitab mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seumpamanya astronomi, ketabiban, logika, matematika, bahasa, dan lainnya.baikpun Brahama-sustras maupun Brahama-shastras itu termasuk kedalam himpunan kitab suci.
D. Kitab Brahmana dan Aranyaka
Berbeda dari naskah atau kitab Samhita, kitab brahmana disusun oleh para pendeta Brahmana sekitar abad ka-8 S.M kitab tersebut bukanlah puji-pujian kepada para dewa, tetapi merupakan kitab yang berisi keterangan-keterangan dari para tentang korban dan sasaji. Uraian-uraian didalamnya banyak yang membosankan dan sungkar dipahami padahal pikiran dasarnya justru sangat sederhana. Keterangan-keterangan tersebut disertai dengan mitos dan legende tentang manusia dan dewa dengan memberikan ilustrasi ritus-ritus korban. Pada bagian akhir kitab terdapat tambahan yang disebut kitab Aranyaka yang berisi tentang renungan sekitar masalah korban sehingga dianggap sakti. Karena itu mempelajarinya harus ditempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia, yaitu ditengah-tengah hutan. Selain kitab brahmana masih ada lagi kitab lain yang pada intinya menguraikan masalah korban, cara melakukannya, mantra-mantra yang harus diucapkan dan cara pengucapannya.
Kitab-kitab tersebut denga kitab Wedanga yang merupakan hasil pemikiran para resi. Peraturan-peraturan yang di ajarkan didalam harus dipatuhi dan ditaati supaya korban tidak kehilangan daya kekuatan.
Isi kitab Wedanga dapat dianggap sebagai permulaan ilmu pengetahuan di India tentang fonetika paramasatra, etimologi, teori sanjak, ilmu perbandingan dan aturan-aturan pergaulan dalam masyarakat. Kitab paramasastra yang sangat terkenal adalah karya panini. Seorang pujangga yang hidup sekitar abad 5 S.M.
Kitab yang berisi pedoman tentang berbagai masalah kepercayaan tersebut Sutra, bahasanya padat, kalimatnya singkat termasuk Sutra Vadanga adalah kalpa Sutra atau Srauta-Sutra yang berisi tentang upacara korban besar dan Grhya-sutra, tentang orban kecil. Dharma-Sutra berisi hukum-hukum Hindu.
Dharma-Sastra termasuk kesusastraan Brahmana dan merupakan kitab undang-undang yang mengatur berbagai segi kehidupan manusia. Isinya bercampur dengan kitab lainnya, yaitu tentang pengetahuan dan dongeng-dongeng. Yang sangat terkenal adalah Manawa-Dharma-sastra yang menurut mitologi terkarang oleh manu (manusia pertama), kitab ini berpengaruh terhadap umat Hindu dewasa ini baik di India maupun di Indonesia. Kepercayaan-kepercayaan yang termuat dalam kitab wedangga dikenal dengan agama Brahmana.
Tingakatan pemikiran pada Brahmana (pemikiran Weda) merupakan tafsiran yang berupa prosa, sangat terinci dan isinya berupa kidung-kidung korban atau beberapa upacara lain. Brahmanas berarti “pertautan dengan brahman” tafsiran-tafsiran ini biasanya terdiri dari ajaran-ajaran yang memerintahkan untuk mengamalkan perbutan yang jelek. Semuanya tadi dinyatakan dengan Arthavada yang mengambil bentuk puji-pujian terhadap kebaikan (biasanya disebut Stuti) dan celaan atau kecaman terhadap yang buruk (disebut Ninda).
Dalam kitab brahman terdapat mitos dan legende kuno yang ditulis Purakalpa, Orakerti. Tulisan weda pada brahmana memperlihatkan adanya perkembangan cerita dan mitos tentang dewa-dewa, juga tenang kosmologi yang digambarkan dalam kidung-kidung, kitab Brahmana bercorak interpretasi esoterik dan simotik . masing-masing dewa da ritusnya tidak dapat dilepaskan dari tiga hal, yaitu adhiyajna (korban) dan adhayatman (yang bersifat mistis dan filosofis).
Dalam agama brahmana pemujaan terhadap matahari sangat ditekankan, kalau siwa dan beberapa kidungnya banyak tercantum dalam Yajur weda, maka kitab Aranyaka (bagian akhir kitab brahmana) berisi rangkaian doa yang panjang yang ditunjukan terhadap matahari, yang disebut Suryanamaskar
.
- Perubahan pada agama Brahmana
Dalam kitab yang sebelumnya, terutama pada Samhita dan mantra, selik beluk korban terhadap dewa belum duketahui. Penjelasan mengenai cara dan peraturan penyelengaraan korban baru ada dalam kitab brahmana, disertai tafsiran-tafsiran yang dilengkapi dalam kitab Wedanga, sejalan dengan itu maka pandangan terhadap penting tidaknya suatu dewa juga mengalami perubahan , beberapa dewa bahkan kemudian tidak memegang peranan penting lagi. Dewa waruna sebagai pengawas tata tertib kosmos berubah turun martabatnya menjadi dewa laut. Dewa-dewa yang kemudian muncul dalam agama adalah dewa Brahma dan Siwa. Yang dianggap jauh dari manusia dewa Mitra juga tidak pernah disebut-sebut lagi, Wisnu dalam perkembangan yang kemudian menjadi Prajapati. Dewa rudra menjadi sangat penting dan disebut dengan Siwa-Ruda
- Isi kitab brahmana terdiri atas dua bagian. Bagian pertama memberi uraian tentang peraturan-peraturan untuk persembahan, yang memberikan tafsiran tentang peraturan-peraturan didalam Weda. Yang kedua adalah sejenis kitab. Kitab hukum atau dharmasastra. Sebernarnya kitab itu ialah kumpulan patoka-patokan bagi seluruh kehidupan menurut patoka-patokan itu seluruh kehidupan harus di selenggarakan. Kitab-kitab itu membicarakan segala hal hingga dewasa ini kitab hukum manu.
Yakni manusia pertama menurut dongengan, ialah Manawadharmasastra masih di akui. Bahkan kitab-kitab hukum Bali dan Jawa Kuno didasarka pada kitab tersebut oleh hukum-hukum dan patokan-patokan itu diatur dan di pertajamlah perbedaan antara berbagai golongan yang merupakan penduduk India yang sangat tercampur dan bermacam-macam. Selain kasta-kasta yang dahulu telah disebut, terjadilah sekarang sejumlah kasta tercampur karena perkawinan tercampur. Tetapi orang tidak dapat naik kasta karena perkawinan, kalau turun kasta dapat, di luar kasta-kasta para paria, termasuk pula kedalam segala orang asing. Ketiga kasta yang tertinggi (brahmana, ksatria, waisya) boleh memakai kalung kasta dan membaca Weda dan mereka dipandang sebagai keturunan bangsa arya karena termasuk kedalam salah satu kasta (upananyana), seolah-olah berarti suatu kelahiran yang kedua, maka anggota-anggota ketiga kasta yang tertinggi disebut para dwiya artinya orang yang lahir dua kali.
- Ketiga bnyak di jumpai dalam kitab brahmana banyak keterangan tentang keadaan tertentu di dalam hidyp manusia atau du dalam alam dengan pertolongan mitologi.
E. Kitab ittihasa dan Puran
Belakangan ini ada perbincangan yang mempersoalkan apakah itihasa itu kitab suci Hindu ataukah tidak, Ada banyak kitab Ittihasa, namun dua yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabharata. Kitab suci dalam ulasan ini adalah kitab suci sebagai pegangan sebuah agama. Jadi, kalau kita berbicara di depan umum, apakah kitab suci agama Hindu itu? Jawabnya adalah Weda. Apakah Itihasa bukan kitab suci? Bukan! Apakah lontar bukan kitab suci? Bukan!
Kitab suci Hindu, sebagaimana kitab suci agama lainnya, adalah wahyu Tuhan. Dalam Hindu ini disebut Sruti. Weda adalah Sruti yang wahyunya diterima oleh tujuh resi agung. Weda terdiri dari empat (catur) yaitu Reg Weda, Yajur Weda, Sama Weda dan Atharwa Weda. Kemudian menyusul kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad yang dikelompokkan ke dalam Weda sehingga disebut Catur Weda Samhita. Selanjutnya ada kitab-kitab Sutra, Dharmasastra, Itihasa, Purana dan kitab-kitab Darsana digolongkan sebagai Susastra Hindu. Ada buku baru dari Prof. Made Titib yang mengulas masalah ini secara menarik, judulnya “Itihasa Ramayana dan Mahabharata (Viracarita).”
Weda dan Susastra Hindu itu dikelompokkan dengan menarik oleh Vatsyayasa dalam bukunya Nyayasutrabhasya. Garis besarnya begini: Weda adalah pedoman umum dan acuan dalam ritual (yadnya). Itihasa dan Purana menguraikan “sejarah dunia” dan tentang umat manusia. Weda adalah sumber utama dari wahyu Tuhan, sumber segala dharma dan hukum Hindu.
Itihasa dan Purana menguraikan ajaran dalam Weda dengan kisah-kisah menarik sehingga mudah untuk diterima umat. Karena begitu sulitnya mempelajari Weda, apalagi di masa lalu sarana untuk itu terbatas, maka para Rsi membuat kisah-kisah Itihasa, tujuannya tiada lain untuk menyebarkan isi Weda itu sendiri. Di zaman emas Kerajaan Majapahit di mana Hindu berkembang bagus, dalam kitab Sarasamuccaya dimuat sloka yang terjemahannya begini: “Veda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna melalui jalan Itihasa dan Purana sebab Weda akan takut pada orang-orang yang sedikit pengetahuannya.” Maksudnya adalah mulailah mengenal Itihasa dan Purana lebih dahulu, kemudian setelah pengetahuan menjadi bertambah, baru ke Weda. Sampai saat ini pun, meski kitab Weda sudah diterjemahkan dan dijual di toko buku, masih sulit mempelajarinya jika tidak didampingi seorang guru atau nabe.
Itihasa dan Purana memang ajaran suci, tetapi bukan kitab suci. Pertama, karena itu bukan wahyu Tuhan. Kedua, karena bentuk Itihasa adalah kisah, tentu ada kisah buruk dan kisah baik, yang buruk jangan dicontoh, yang baik dijadikan contoh. Ibarat seorang guru yang mengajar budi pekerti untuk anak usia Sekolah Dasar, pembelajaran lewat dongeng sangat dianjurkan. Weda sebagai wahyu Tuhan tentu tak memberi contoh yang buruk. Kitab suci semuanya mengajarkan dharma.
F. Pengertian Weda
Kata Veda dapat dikaji dari 2 pendekatan, yaitu etimologi dan etimologi dan semantik, kata Veda berasal dari kata kerja Vid yang artinya mengetahui dan Veda berarti pengetahuan. Dalam pengertian Semantik Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, pengetahuan tentang ritual, kebijaksanaan yang tinggi, pengetahuan spiritualsejati tentang kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci sumber ajaran Agama Hindu.
Veda dalam bentuk tunggal (dalam bahasa Inggris biasanya di tulis Veda) berarti pengetahuan suci sedang dalam bentuk jamaknya (dalam bahasa Inggris biasanya ditulis Vedas) berarti dalam pengertian luas yakni seluruh kitab Sruti terdiri dari 4 Veda (Mantra Samhita), kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan kitab-kitab Upanisad.
Tentang arti Veda, S, Radhakrishnan lebih jauh menyatakan “Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan dalam tahap kedua disebabkan oleh pengkajian yang lebih mendatail, sedang kebijaksanaan (Veda) adalah pengetahuan tahap awal (tngkatan yang pertama)yang diturunkan dari prinsip tak terciptakan.
9
Veda tidaklah susastra tunggal seperti Bhagavadgita atau sebuah himpunan sejumlah buku disusun dalam waktu tertentu seperti tripitaka, kitab suci agama Budha atau Biblenya pengenut Kristen, seluruh susastra yang muncul berabad-abad yang Islam diturunkan serta diteruskan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan. Pada saat tulisan belum ditemukan dan buku-buku belum tersedia ingatan manusia sangat kuat dan muncul tradisi untuk mengingat ini. Untuk dijadian pegangan umat manusa memerlukan waktu untuk memelihara susastra ini dan Veda sebagai dinyatakan adalah pengetahuan suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Wahyu ini dikuduskan sedemikian rupa dan menjadi standar pemikiran serta perasaan umat Hindu jadi Veda adalah pengetahuan dan kebijaksanaan suci dokument pertama dan tertua yang dimiliki oleh umat manusia.
Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa diyakini kebenarannya oleh suluruh umat Hindu. Kebenaran Veda tidak diragukan lagi. Veda adalah bahasa sangsekerta dan bahasa tetap juga digunakan sampai berkembangnya susastra Veda pada zaman sesudah Veda itu dihimpun dalam 4 himpunan yang disebut Samhita dan keempat Samhita itu dikenal dengan nama Catur Veda, yang terdiri: Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda.
Istilah atau nama Sansekerta sebagai nama bahasa ini di peopulerkan oleh seorang Maharsi Panini pada waktu itu mencoba menulis kitab Vyakarana, yaitu kitab tata bahasa Sansekerta yang terdiri dari 8 Adhyaya atau bab yang terkenal dengan nama Astadhyayi, yang mencoba mengemukakan bahwa bahasa yang digunakan dalam Veda adalah bahasa deva-deva yang
10
dikenal pula dengan nama daivivak yang artinya bahasa atau sabda devata.
Beberapa tahun kemudian atas jasa maharsi patanjali yang menulis kitab bahasa dan merupakan buku kritik terhadap karya Panini yang ditulis pada abad ke II S.M makin terungkaplah nama Daivivak untuk menamai bahasa yang digunakan dalam Veda termasuk pula digunakan dalam kitab Itihasa (sejarah), Purana (sejarah kuno), Smrti/Darmasastra (kitab-kitab hukum), Kitab-Kitab Agama (peganagn bagi Sampradaya atau Paksa seperti Saivagama, Tantrayana dan lain-lain, juga bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab Darsana (filsafat Hindu) dan susastra Hindu lainnya atau yang berkembang pada jaman sesudahnya.
G. Kedudukan Kitab Suci Veda
a. Veda, kitab suci, sumber ajaran agama Hindu
Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya, dari kitab Veda (Sruti) mengalirlah ajaranya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti,Itihasa, Purana, Darsana, dan Tatwa-Tatwa yang kita warisi di Indonesia.
Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan didunia ini dan di akhirat nanti. Veda menuntun tindakan manusia sejak lahir sampai pada nafasnya yang terakhir. Ajaran Veda tidak terbatas hanya tuntunan hidup individual, tetapi juga dalam hidup masyarakat, berbangsa dan bernegara, bagaimana hendaknya seseorang atau masyarakat bersikap dan bertindak, tugas-tugas individu dan tugas-tugas umum sebagai anggota masyarakat, demikian pula bagaimana seorang rohaniwan bertingkah laku,
tugas dan kewajiban kepada negara atau pemerintah dalam mengemban tugasnya. Segala tuntunan hidup ditunjukan oleh ajaran Veda yang terhimpun dalam kitab Samhita, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad, maupun yang dijelaskan kembali dalam kitab-kitab susastra Veda atau susastra Hindu lainnya.
b. Veda, wahyu Tuhan Yang Maha Esa
Seperti halnya setiap ajaran agam memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa jaran agama itu bersumber pada kitab suci, demikian pula umat Hindu yakin bahwa kitab sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Sruti artinya yang didengar. Veda sebagai himpunan sabda atau wahyu berasal dari: Apauruseya (yang artinya bukan dari Purusa atau manusia). Sebab para Rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai instrument (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran sucinya.
12
Terhadap pernyataan ini Svami Dayanada Sarasvati menyatakan: “Veda adalah sabdanya dan segala kuasanya bersifat abadi”, Svami Dayanandapun menambahkan: “Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atarvaveda berasal dan merupakan sabdanya, Tuhan Yang Maha Agung dan Sempurna, para Brahman yang memiliki kekuasaan yang menjadi dirinya sendiri, penuh kesadaran, supra empiris, dan sumber Svami Dayananda mengacu kepada Yajurveda berikut:
Tasmad yajnat sarvahuta
Rcah samani jajnire
Chandamsi jajnire tasmad
Yajus tasmad ajayata
(Yajurveda XXX.7.)
( dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanyalah umat manusia mempersembahkan berbagai Yajma dan dari padanya muncul Rgveda dan samavead)
Tentang para Rsi yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan menyampaikan secara lisan melalui tradisi kuno yakni sistem perguruan yang disebut “Parampara”, seorang filologist veda dan penyusun kitab Nikrukta bernama Yascacarya menyatakan:
Saksat krta dharman rsayo
Bubhuvuste’ saksat krta dharmabhya
Upadesena mantran sampraduh
Nirukta I. 19
(para rsi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan Dharma dengan sempurna, beliau mengajarkan hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan, yang belum merealisasikan hal itu).
Para rsi adalah mereka yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, karena kesuciannya pribadinya, mereka menerima sabda sucinya. Kata Rsi berasal urat kata drs yang artinya melihat atau memandang, dalam pengertian yang lebih luas berarti memparoleh atau menerima, oleh karena itu seorang Rsi disebut Mantradrasta (mantradrastarah itirsih).
Berdasarkan kutipan diatas para rsi adalah mereka yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, karena kesucian pribadinya mereka menerima sabda sucinya. Kata Rsi berasal darinurat kata drs yang artinya melihat atau memandang dalam pengertian yang lebih luas berarti memperoleh atau menerima oleh karena itu seorang Rsi disebut Mantradrasta (Mantradrastarah itirsih) ada beberapa cara seorang rsi menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, yaitu melalui:
1. Svaranada, yakni gema yang diterima para rsi dan gema tersebut berubah menjadi sabda atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa, kemudian wahyu itu disampaikan kepada siswanya didalam asrama (pasraman).
2. Upanisad, pikiran para rsi dimasuki oleh sabda Brahman sehinga pikiran para rsi itu berfungsi sebvagai sarana untuk menghubungkan Tuhan yang Maha Esa dengan para rsi tersebut.
3. Darsana atau Darsanam, yakni rsi atau orang suci berhadapan dengan Deva-deva seperti halnya Arjuna berhadapan dengan Deva Indra atau Siva dengan suatu pandangan gaib dengan mata Rohani.
4. Avatar, yakni manusia berhadapan dengan avatarnya seperti halnya Arjuna menerima wejangan sici Bhagavadgita dari Sri Krsna, Sang Purna Avatar.
c. Veda, sumber hukum Hindu
Maharsi Manu, peletak dasar hukum Hindu menjelaskan bahwa Veda adalah sumber dari segala Dharma atau hukum Hindu:
Vedo’khilo dharma mulam
Smrti sile ca tad vidam ,
Acarasca iva sadhunam
Atmanas tustir eva ca
Manavadharmasastra II.6.
(Veda adalah sumber dari segala Dharma, kemudian barulah smrti, disamping sila, Acara, dan Atamanastusti).
Berdasarkan kutipan diatas sumber-sumber hukum Hindu menurut kronologisnya, sebagai berikut
a. Veda (Sruti)
b. Smrti (Darmasastra)
c. Sila (tingkah laku orang suci)
d. Acara (tradisi yang baik)
e. Atmanastusti (keheningan hati)
d. Nama-nama lain kitab suci Veda
1. Kitab sruti, kitab Sruti menunjukan bahwa isi kitab itu merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang diterima oleh para maharsi seorangMaharsi yang artinya karena kesucian diri pribadinya mampu merekam sabda Tuhan Yang Maha Esa Yang disebut Aparuseya atau Tuhan yang Maha esa yang bukan berwujud manusia dalam susastra berbahasa jawa kuno.
2. Kitab Catur Veda. Nama Catur Veda dimaksudkan untuk mewujudkan bahwa Veda itu merupakan himpunan (Shamhita)
dari Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atarvaveda., tiga yang pertama diyakini umumnya jauh lebih tua, sesungguhnya Veda dapat dikelompokan dalam 2 jenis lainnya(Yajurveda, dan Samaveda) bersumber pada Rgveda.
3. Kitab Rahasya. Kata raharsya artinya bahwa Veda mengandung ajaran yang bersifat rahasia, yakni ajaran Moksa atau kelepasan. Ajaran Veda yang meliputi ajaran ketuhanan serta penciptaan alam semesta yang penuh misteri dan selalu menjadi pertanyaan serta usaha untuk bersatu dengannya merupakan tujuan tertinggi agama Hindu.
4. Kitab Agama. Kitab Agama menunjukan bahwa kebenaran Veda adalah mutlak dan harus diyakini kebenarannya. Kata Agama merupakan salah satu istilah Pramana yaitu tiga cara untuk menentukan kebenaran sesuatu, yaitu: Agama Pramana, Anumana, Pramana, dan Pratyaksa Pramana yang masing-masing berarti kebenaran yang disampaikan oleh orang-orang suci yang sangat diyakini kesucian pribadinya, kebenaran yang berdasarkan pertimbangan analisis yang sistematis dan kebenaran yang berdasarkan pengamatan.
5. Kitab Mantra. Kitab Mantraadalah nama lain dari kitab Veda, nama lain diberikan karena Veda berbentuk mantra atau puisi (syair) yang dapat pulandi lagukan. Mantra artinya ucapan yang keluar dari pikiran (manah) dan pikiran merupakan saluran membentuk rupa atau wujud yang dapat dibayangkan. Seluruh kitab sruti syairnya pada umumnya disebut mantra meliputi seluruh kitab-kitab samhite (Catur Veda), Brahmana, Aranyaka, dan kitab-kitab Upanisad di luar kitab tersebut syair-syairnya disebut Sloka, seperti kitab-kitab Itihasa lain.
H. Para RSI penerima wahyu Veda
1. Para Rsi penerima wahyu Veda
Veda pada mulanya diterima secara lisan dan disampaikan pula secara lisanmengingat Veda diturunkan itu belum dikenal tulisan, bahasa lisan lebih dulu digunakan baru kemudian ketika tulisan mantra-mantra Veda dituliskan kembali dan tentang penulisan kembali ini, secara tradisional berdasarkan kitab-kitab Purana, maharsi Vyasa atau Krsnadvaipayana yang menyusun atau menulis kembali ajaran Veda dalam 4 himpunan (samhita) dibantu oleh 4orang siswanya, yaitu Puhala, atau Paila, diyakini menyusun Rgveda, Vaisampayana, menyusun Yajurveda, Jaimini menyusun Samaveda dan Samantu menyusun Atharvaveda.
Seorang rsi adalah seorang rohaniawan, agamawan dan sekaligus seorang pemimpin, didalam kitab Purana pengelompokan rsi kedalam 3 kategori yaitu:
a. Devarsi,
b. Brahmarsi,
c. Rajarsi.
Didalam kitab Nirukta II.I, salah satu kitab Vedangga yang menyatakan:”bahwa para rsi ialah mereka yang dari uraian tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa jadi rsi itu ada kaitannya dengan penerima mantra hal ini semakin jelas bila membaca sebuah Sukta (hymne) dalam Veda menyebutkan Rsi, Devata, dan Canda, sebagai contoh Sukta pertama (Pratamasukta) dan Rgveda yang terdiri dari rsi: Vismitra dan Madhucchandha, devada: Agni dan Canda: Gayatri.
Umat Hindu berpandangan dengan banyak rsi itu umat mendapatkan teladan, figur dan penampilannya menjadi panutan, wejangan-wejangnnya memberikan kesejukan hati dan kebahagiaan yang tiada tara, misal karya maharsi Vyasa yang memadukan unsur sejarah dan mitologi dalam karya besarnya Mahabrata dan kitab-kitab Purana senantiasa dinikmati oleh mereka yang kehausan untuk mereguk mantra suci ajaranya.
Disamping pengelompokan kedalam 3 kategori tersebut diatas, kitab Matsya dan Brahmanda Purana menyebutkan 35 pengelompokan rsi sebagai berikut:
a. Brahmarsi
b. Satyarsi
c. Devarsi
d. Srutarsi
e. Rajarsi
Pengelompokan tersebut adalah penyempurnaan dari pengelompokan sebelumnya dengan menambahkan 2 kelompok baru yaitu Satyarsi dan Srutarsi, dari istilah-istilah ini dapat dipahami bhwa nama-nama kelompok ini hanya bersifat relatif fungsional dihubungkan dengan fungsi dan sifat dari seorang rsi.
Didalam Manava dharmasastra disebutka ada beberapa jenis guru demikian pula halnya dengan Brahmana, seorang guru di sebut Acarya bila ia telah menguasai selurh isi Veda, termasuk Itihasa, Purana, Vedanga dan kitab-kitab Susastra Hindu lainnyasebaliknya seorang Upadhyaya hanya dianggap cukup bila ia menguasai Vedanga. Selanjutnya seorang rsi sebagai Battara (pelindung)
sekaligus seorang pemimpin baik dalam bidang kerohanian, politik dan pemerintahan dan bahkan menjadi panglima perang sebagai contoh adalah rsi Bhisma, Dorna dan sebagainya. Didalam kitab Brahmanda Purana disebutka adanya 9 Prajapati yaitu: Bhrgu, Angita, Pulastya, Puhala, Kdeva, Saksa, Atri dan Vasista.
Di antara Prajapati adapula yang disebut namanya didalam kitab Rgveda sebagai rsi dikaitkan dengan mantra-mantra dalam kitab
suci ini, adapun 4 kelompok lainnya (Brahma, Satya, Sruta, dan Rajarsi). Didalam Brahmanda Purana masing-masing disebutka berturut-turut Sonaka, sananda, Sanatkumara.
Adapun Saptarsi dan keluarga (Gotra) dari Sapta (Maha) rsi, yang paling banyak disebut-sebut adalah:Grtsamada, Visvamitra, Vamadeva, Atri, Braradvaja,Visitha dan Kanva. Adapun penjelasannya adlah sebagai berikut:
1. Rsi Grtsamada
Maharsi Grtsamada adalah maharsi yang banyak dihbungkan dengan turunnya mantra-mantra Veda, terutama rgveda mandala II. Sejarah kehidupan maharsi Grtsamada tidak banyak diketahui, dari beberapa cacatan diketahui bahwa Grtsamada adalah keturunan dari Sunahotrakeluarga Angira.
2. Rsi Visvamitra
Maharsi visvamitra adalah maharsi yang kedua banyak disebut-sebut namanya dan dikaitkan dengan seluruh mandala IIIRgveda. Kitab Rgveda terdiri dari 58 Sukta setelah diadakan penelitian, tarnyata tidak semua sukta iu dikaitkan degan nama Visvamitra karena diantara mantra-mantra ada menyebutkan mahrsi lainnya adalah putra rsi Musika.
3. Rsi Vamadeva
Maharsi Vamadeva banyak dihubungkan dengan mandala IV kitab rgveda. Kurang banyak diketahui tentang riwayat maharsi ini didalam kitab-kitab Purana diceritakan bahwa Vamadeva sempat mengadakan dialog dengan deva Indra dan Iditi.
4. Rsi Atri
Maharsi Atri pada umumnya banyak dikaitkan dengan turunnya mantra-mantra mandala V Rgveda namun tidak banyak yang mengetahui tentang maharsi tersebut. Namun dinyatakan bahwa didalam keluarga Atri yang tergolong Brahmana ada beberapa nama dari keluarganya Atri seperti: Sayana, Udvalaka, Sona, Sukdeva, Gauragriva, dan lain-lain.
5. Rsi Bharadvaja
Rsi Bharadvaja adalah maharsi yang banyak dikaitkan dengan mantra-mantra dari mandalaVI ada beberapa yang diturunkan melalui Sahotra dan Sarahotra, adapun nama-nama lain, seperti Nara, Garagajisva, adalah nama rsi penerima dari keluarga Braradvaja, didalam kitab Purana dijelaskan bahwa Bharadvaja adalah putra Brihaspati.
6. Rsi Vasistha
Nama Vasistha sering digunakan sebagai nama keluarga kadangkala sebgai nama pribadi. Rsi Vasistha banyak dikaitkan dengan turunnya mantra-mantra mandala VII Rgveda, salah seorang keturunan rsi Vasistha adalah rsi Sakti yang juga terkenal sebagi penerima wahyu. Didalam kitab Mahabhrata nama Vaisitha disamakan dengan Visvamitra, didalam kitab Matsya Purana, dinyatakan bahwa rsi Vasistha mengawini Arundhati, saudara perempuan devarsi Narada. Dari padanya lahir seorang putra bernama Sakti.
7. Rsi Kanva
Maharsi Kanva merupakan maharsi penerima wahyu dan banyak dikaitkan dengan mandala VIII Rgveda. Mandala ini isinya bermacam-macam Sukta. Kava adalah nama pribadi dan juga nam keluarga mandala VIII dinyatakan diterima oleh maharsi Kanva atau merupakan wajyu yang diterima pleh keluarga Sakuntala, disamping rsi Kanva terdapat pula nama rsi lainnya seperti Kasyava putra Marici. Maharsi Kanva menpunyai putra bernama Praskanva. Nama-nama rsi yang lain juga dapat dijumpai dalam mandala VIII adalah: Gosukti, Asvasukti, Pustigu, Bhrgu, Manu, Vaivasvata Nipatithi, dan sebagainya.
I. Penutup
Demikian lah makalah ini saya buat, makalah ini untuk memenuhi persyaratn perkuliahan , dan mohon di koreksi apabila ada kesalahan dalam penulisannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Arifin,M.M, menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Golden Trayon Press, Jakarta 1986
- Honing, A.G.Jr, ilmu agama,PT. BPK. Gunung Mulia, Jakarta 1997
- Joesoep, Sou’yb,agama-agama besar didunia, PT. Totalido, Jakarta, 1996
- Titib, I Made, Pengantar Weda, Hanuman sakti, Jakarta, 1996
- Mukti, Ali Agama-agama Dunia, PT. Hanindita, Yogyakarta
- Putu, setia, suara kaum muda Hindu, PT. Mandiri,Jakarta, 1993
- Penulis Wakil Ketua Sabha Walaka PHDI Pusa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar