1. Pendahuluan
Ilmu Filsafat adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana caranya mengungkapkan nilai-nilai kebenaran hakiki yang dijadikan landasan untuk hidup yang dicita-citakan. Demikian halnya ilmu filsafat yang ada di dalam ajaran Hindu yang juga disebut dengan Darsana, semuanya berusaha untuk mengungkapkan tentang nilai-nilai kebenaran dengan bersumber pada kitab suci Veda.
Sistem filsafat india terdiri dari dua golongan, yaitu: golongan astika (ortodoks) dan dolongan nastika (heterodoks). Yang termasuk golongan astika ialah golongan yang mengakui kedaulatan weda, sedangkan golongan nastika ialah golongan yang tidak mengakui kedaulatan weda. Adapun yang termasuk golongan astika diantaranya yaitu: nyaya, waisesika, sankhya, yoga, purwa mimamsa, dan uttara mimamsa atau wedanta. Maka Nyaya dan mimamsa lah yang akan menjadi topik pada makalah ini.
2. Pembahasan
A. Nyaya
Nyaya artinya suatu penelitian yang analitis dan kritis. Oleh karena itu sistem nyaya membicarakan bagian umum filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian yang kritis.
. Sistem Nyaya muncul akibat adanya perdebatan diantara para ahli pikir dalam usaha mereka mencari kebenaran dari ayat-ayat weda untuk dijadikan landasan melaksanakan upacara-upacara korban. Dari hal itu timbullah kemudian patokan-patokan bagaimana mengadakan penelitian yang benar dan logis. Atas dasar ini maka nyaya disebut juga Tarkawada yaitu ilmu berdebat
Pendiri ajaran ini adalah Mahersi Gautama (Gotami), hidup pada abad ke 4 SM yang mana hasil karya tersebut disebut dengan Nyaya sutra yang terdiri atas lima Adhayana (bab) dan dibagi ke dalam lima “pada” atau bagian. Ajaran filsafat Nyaya disebut realistis karena mengakui benda-benda sebagai suatu kenyataan. Ajaran yang realistik ini mendasarkannya pada ilmu logika, sistematis, kronologis dan analitis.
Pada kurang lebih 400 Masehi sutra ini diberi komentar oleh Watsyayana. Nyaya berpangkal pada keyakinan bahwa dunia di luar kita itu berdiri sendiri, lepas daripada pikiran kita. Kita dapat mempunyai pengetahuan tentang dunia luar luar kita itu, yaitu dengan perantaraan pikiran kita. Dalam usahanya untuk mengetahui dunia di luarnya, pikiran dibantu (melalui perantara) oleh indera kita. Karena pendirian yang demikian ini maka sistim Nyaya dapat disebut sistim yang realistis. Apakah pengetahuan kita berlaku (benar) atau tidak, hal itu tergantung dari alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan tadi. Alat-alat yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan disebut pramana, sedang pengetahuan yang berlaku atau yang benar prama.
Dalam Nyaya ada empat alat atau cara untuk mencari atau mendapatkan pengetahuan yang benar, diantaranya ialah:
1. Pratyaksa ialah pengamatan langsung melalui panca indera
Alat yang dipakai untuk mengamati sesuatu dibedakan menjadi dua yaitu:
Pengamatan melalui panca indera
Pengamatan yang bersifat transenden atau yang luar biasa
Contoh: seorang Yogi dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera orang biasa. Ini disebabkan karena seorang Yogi dapat berhadapan dengan sasaran yang mengatasi indra manusia. Kekuatan seperti itu dimiliknya karena mempunyai menguasai dan menghubungkan prana pada dirinya dengan prana pada makrokosmos.
Disamping alat untuk mengamati, maka proses pengamatan itu dibedakan pula menjadi dua yaitu:
Nirmikalpa yaitu pengamatan yang tidak ditentukan.
Contoh: kita dapat mengamati sesuatu tanpa mengetahui volume, berat, warna dan jenis dari obyek yang diamati.
Sawikalpa yaitu pengamatan yang ditentukan atau dibeda-bedakan.
Contoh: kita mengamati suatu obyek yang menjadikan kita tahu dan mengerti secara betul tentang sasaran (obyek) yang diamati, baik ukurannya, sifatnya, maupun jenisnya. Dengan demikian melalui sawikalpa memungkinkan kita mendapatkan pengetahuan yang benar. Pengetahuan itu dikatakan benar bila keterangan atau sifat yang deinyatakan cocok dengan obyek yang diamati.
Disamping pengamatan terhadap obyek yang nyata maka Nyaya juga mengajarkan bahwa obyek yang tidak ada maupun yang tidak nyata pun dapat diamati.
Contoh: adanya daun yang tidak berwarna hijau, sedangkan umumnya daun berwarna hijau. Jika kita mengamati daun yang tidak berwarna hijau maka kita akan melihat tidak adanya warna hijau.
Jadi ketidak adaan warna hijau dapat kita amati melalui daun tadi. Ini menunjukkan bahwa tidak ada pun dapat diamati pula.
2. Anumana ialah pengetahuan yang diperoleh dari suatu objek dengan menarik pengertian dari tanda-tanda yang diperoleh
Ini merupakan ajaran terpenting diantara empat cara yang diajarkan oleh Nyaya. Pengetahuan yang didapat secara silogisme merupakan sesuatu yang terdapat diantara pengamat dengan obyek yang diamati.
Contoh:
Di tempat yang jauh dari kita dapat melihat ada asap mengepul, maka dapat kita simpulkan bahwa sebelum asap itu tentu ada sesuatu yang terbakar oleh api. Atau dengan asap kita tahu bahwa di sana juga ada api, karena asap dan api memiliki hubungan yang tidak terpisahkan.
Secara nyata kita tidak dapat melihat udara maupun oksigen (O2) yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan.
Bila kemudian kita melihat makhluk dapat hidup di dalam air seperti tumbuh-tumbuhan atau plankton, maka kita dapat simpulkan bahwa di dalam air itu tentu ada udara atau O2.
3. Upamana ialah ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui perbandingan
Contoh: seseorang yang tidak tahu dengan binatang singa. Dari seorang zoolog dia mendapatkan keterangan bahwa singa itu bentuknya menyerupai anjing, namun muka dan kepalanya kelihatan lebih garang. Pada suatu ketika orang yang mendapat keterangan tentang nama (sebutan) singa itu berjumpa dengan binatang serupa anjing di kebun binatang. Maka dia dapat membandingkan keterangna yang dia terima dengan membandingkan keterangan yang dia terima dengan binatang yang dilihatnya serta dapat meyakini bahwa binatang tersebut adalah singa.
4. Sabda ialah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan mendengarkan atau melalui penjelasan dari sumber-sumber yang patut dipercaya (kesaksian)
Sabda pramana dapat dibedakan atas dua hal yaitu:
Kesaksian yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya karena keluhuran dan ketinggian budinya, yang dinyatakan di dalam kata-katanya yang disebut pula laukita.
Kesaksian atau kebenaran weda (waidika). Nyaya memandang dan meyakini bahwa weda merupakan wahyu Tuhan, maka kesaksian kitab weda dipandang sebagai kesaksian yang sempurna serta tidak dapat dibantah kebenarannya (weda merupakan kebenaran yang mutlak)
a. Tuhan dalam filsafat Nyaya
Karena Nyaya meyakini kebenaran weda, maka penganut Nyaya (Naiyayika) percaya akan adanya Tuhan dan Tuhan disamakan dengan siwa.
Menurut Nyaya Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan dunia. Ia tidak menciptakan dunia dari ketiadaan, tetapi dari atom-atom eternal; ruang, waktu, ether, pikiran, jiwa-jiwa. Penciptaan dunia berarti penataan entitas-entitas eternal yang koeksis dengan Tuhan menjadi dua motral, dimana roh-roh individu menikmati dan menderita menurut merit perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan semua benda fisik melayani sebagai sarana tujuan moral dan spiritual kehidupan kita, Tuhan dengan demikian adalah pencipta dunia dan bukan penyebab materialnya. Ia juga sebagai pemelihara dunia sepanjang dunia dijaga dalam eksistensi oleh keinginan Tuhan. Ia juga sebagai pelebur yang mengijinkan kekuatan destruksi beroprasi ketika tatanan dunia moral menghendakinya kemudian Tuhan satu tak terbatas dan eternal karena dunia ruang dan waktu, pikiran dan jiwa-jiwa tidak membatasinya tetapi ia dihubungkan dengan Dia. Sebagai tubuh dan roh yang bersemayam didalamnya ia maha kuasa walaupun ia dipandu didalam aktifitas perbuatan buruk. Ia maha tahu sepanjang ia mempunyai pengetahuan benar tentang semua benda dan peristiwa. Ia mempunyai kesadaran eternal sebagai kekuatan kognisi langsung dan teguh semua objek. Kesadaran eternal hanyalah atribut Tuhan yang tidak dapat dipisahkan, bukan esensinya seperti dianut oleh Vedanta. Ia memiliki kesempurnaan (sadisvarya) dan magis, maha agung, megah, indah, tak terbatas, mempunyai pengetahuan tak terbatas dan kebebasan dan sempurna dari kemelekatan.
Tuhan sebagai penyebab efisien dunia, demikian juga Tuhan merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua makhluk hidup di dunia ini yang bebas dari kerja, ia secara relatif bebas, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan oleh dia dibawah direksi dan arahan Tuhan. Seperti halnya dengan seorang ayah yang arif dan pemurah mengarahkan anak-anaknya mengerjakan suatu aktifitas, menurut hadiah-hadiah, kapasitas, dan pencapaiannya sebelumnya. Jadi demikian juga Tuhan mengarahkan semua makhluk hidup melakukan tindakan-tindakan. Sementara manusia adalah penyebab instrumental efisien (prayojaga karta). Jadi Tuhan adalah pengatur moral dunia beserta semua makhluk hidup, sementara buah-buah perbuatan dan yang tertinggi dari kenikmatan dan penderitaan kita.
Untuk membuktikan adanya Tuhan Nyaya mengemukakan dua macam pembuktian tentang Tuhan yaitu:
Bukti Kosmologi
Pembuktian ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu sebab. Oleh karena itu tentu ada sebab yang pertama dan utama. Sebab itulah Tuhan. Tidak ada sebab pertama kecuali Tuhan karena segala sesuatu yang diketahui oleh manusia memiliki kemampuan yang terbatas selain Tuhan. Tidak ada sesuatu sebagai penciptanya sendiri kecuali Tuhan.
Pembuktian Teleologis
Pembuktian ini menyatakan bahwa di dunia in ada suatu tata tertib dan aturan tertentu sehingga dunia ini menampakkan suatu rencana yang berdasarkan pemikiran dan tujuan tertentu. Tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan tersebut. Yang mengadakan itulah Tuhan.
b. Alam dalam filsafat Nyaya
Dalam kitab Regweda terdapat nyanyian yang mengisahkan asal mula alam semesta. Nyanyian tersebut disebut Nasadiyasukta dan terdiri dari tujuh bait sebagai berikut:
Pada mulanya tidak ada sesuatu yang ada namun tidak ada sesuatu yang tidak ada. Tidak ada udara, tidak ada langit pula. Apakah yang menutupi itu, dan mana itu? Airkah di sana? Air yang tak terduga dalamnya?
Waktu itu tidak ada kematian, tidak pula ada kehidupan. Tidak ada yang menandakan siang dan malam. Yang Esa bernapas tanpa napas menurut kekuatannya sendiri. Di luar daripada Ia tidak ada apapun.
Pada mulanya kegelapan ditutupi oleh kegelapan itu sendiri. Semua yang ada ini adalah sesuatu yang tak terbatas dan tak dapat dibedakan, yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosong.
Pada mulanya kegelapan ditutupi oleh kegelapan itu sendiri. Semua yang ada ini adalah sesuatu yang tak terbatas dan tak dapat dibedakan, yang ada pada waktu itu adalah kekosongan dan yang tanpa bentuk. Dengan tenaga panas yang luar biasa lahirlah kesatuan yang kosongSinarnya terentang keluar. Apakah ia melintang? Apakah ia di bawah atau di atas? Beberapa menjadi pencurah benih, yang lain amat hebat. Makanan adalah benih rendah, pemakan adalah benih unggul.
Siapakah yang sungguh-sungguh mengetahui? Siapakah di dunia ini yang dapat menerangkannya? Dari manakah kejadian itu, dan dari manakah timbulnya? Para Dewa ada setelah kejadian itu. Lalu, siapakah yang tahu, darimana ia muncul?
Dia, yang merupakan awal pertama dari kejadian itu, dari-Nya kejadian itu muncul atau mungkin tidak. Dia yang mengawasi dunia dari surga tertinggi, sangat mengetahuinya atau mungkin juga tidak.
Kosmologi Hindu merupakan pengetahuan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta menurut filsafat Hindu. Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi.
Menurut kepercayaan Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap, demikian pula Brahman menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya.
Menurut kitab purana pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmanda. Pada awal proses penciptaan juga terbentuk purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta. Tahap ini terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus. Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, munculah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria).
Setelah timbulnya Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, maka sepuluh indria tersebut berevolusi menjadi Pancatanmatra, yaitu lima benih unsur alam semesta yang sangat halus, tidak berukuran. Lima benih tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Sabdatanmatra (benih suara)
2. Rupatanmatra (benih penglihatan)
3. Rasatanmatra (benih perasa)
4. Gandhatanmatra (benih penciuman)
5. Sparsatanmatra (benih peraba)
Pancatanmatra merupakan benih saja. Pancatanmatra berevolusi menjadi unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur tersebut dinamai Pancamahabhuta, atau Lima Unsur Zat Alam. Kelima unsur tersebut yaitu:
1. Akasa(ether)
2. Bayu (zatgas, udara)
3. Teja (plasma, api, kalor)
4. Apah (zat cair)
5. Pertiwi (zat padat,tanah, logam)
Pancamahabhuta berbentuk ParamÄnu, atau benih yang lebih halus daripada atom. Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan. Setiap planet dan benda langit tersusun dari kelima unsur tersebut, namun kadangkala ada salah satu unsur yang mendominasi. Unsur Teja mendominasi matahari, sedangkan bumi didominasi Pertiwi dan Apah.
c. Kelepasan dalam filsafat Nyaya
Kelepasan merupakan tujuan dari makhluk (manusia). Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui pengetahuan yang benar dan sempurna. Pengetahuan itu akan didapat dari tuntunan Tuhan melalui ajaranNya. Sebagai wujud dari kelepasannya lah terbebasnya jiwatma dari kelahiran kesenangan maupun penderitaan.
Agar kelahiran dan derita terhenti maka hendaklah aktifitas (kerja) dihentikan sehingga terwujudlah kelepasan yaitu suatu keadaan yang tidak terikat akan karma ataupun phala karma. Untuk menghentikan aktifitas maka orang (makhluk) harus melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebenaran sejati sehingga dengan pengetahuan itu orang akan bebas dari ketidak tahuan yang menyebabkan orang menjadi sadar dan bebas dari keinginan, kesalahan dan penyelewengan. Dengan demikian jiwatma akan bebas dari keterlibatan derita tercapailah kelepasan.
B. Mimamsa
Sistem Mimamsa digolongkan dalam bagian ketiga dari filsafat Hindu. Istilah Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’, ‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’. Ditinjau dari segi etimologi ingin berfikir : disini menandakan suatu pemikiran, pemeriksaan atau penyelidikan, daripada teks weda. Karena ia melengkapi pandangan pada weda (kebenaran abadi) maka digolongkan sebagai Darsana (falsafat), yaitu istilah sansekerta untuk falsafat, artinya suatu pandangan kebenaran.
Dalam sumber lain yang ditulis oleh Matius Ali, secara etimologis kata Mimamsa berarti ‘bertanya’ atau ‘penyelidikan’.
Filsafat Mimamsa yang akan dibahas adalah Purwa mimamsa yang umum disebut dengan Mimamsa saja. Kata Mimamsa berarti penyelidikan yang sistematis yang pertama terhadap veda. Purwa mimamsa secara khusus mengkaji bagian veda, yakni kitab-kitab Brahmana dan kalpasutra, sedang bagian yang lain (aranyaka dan upanisad) dibahas oleh Uttara Mimamsa yang dikenal pula dengan nama Vedanta. Purwa mimamsa sering juga disebut Karma mimamsa, sedang Uttara Mimamsa disebut juga Jnana Mimamsa.
Dalam buku yang ditulis oleh Matius Ali disebutkan bahwa Mimamsa yang bagian pertama dari filsafat ini adalah Purva Mimamsa, sedangkan bagian kedua disebut Uttara Mimamsa. Untuk menghindarkan kebingungan, maka Purva Mimamsa disebut dengan Mimamsa, sedangkan Uttara Mimamsa disebut dengan Vedanta.
Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini. Mimamsa dibagi menjadi dua sistem, yakni purwamimamsa dan uttaramimamsa. Kata purna berarti lebih dahulu, maka purwamimamsa artinya yang berurusan dengan bagian lebih dahulu dari pustaka weda. Demikian pula kata uttara berarti yang kemudian jadi uttaramimamsa berurusan dengan bagian akhir dari pustaka weda. Kedua sistem tersebut mempergunakan metode logika yang sama untuk menghadapi persoalan; tetapi memakai lingkungan tafsiran masing-masing. Purvamimamsa juga disebut karma mimamsa, menafsirkan aksi terlarang dalam weda, memimpin ke jurusan kebebasan roh/soul. Uttara mimamsa, juga disebut Jnana mimamsa menafsirkan pengetahuan yang dikemukakan dalam pustaka weda, demi pembebasan roh/soul.
Filsafat Mimamsa adalah sebuah disiplin esoteris. Tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan surgawi dengan merealisasikan suara kosmis (Sabda Brahman). Upacara kurban dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Di sini, tafsir esoteris kata yajna adalah ‘mengendalikan indera dan pikiran’. Pengendalian ini dicapai dengan pengendalian energi hidup’ (prana) melalui pengendalian napas (pranayama). Syarat penting lainnya dalam praktek upacara kurban adalah melepaskan milik pribadi serta ‘disiplin diri’ (yama) melalui sumpah yang keras.
a. Alam dalam filsafat Mimamsa
Mimasa mengatakan bahwa alam ini riil dan kekal serta terjadi dari atom-atom yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat oleh Tuhan karena alam ini ada dengan sendirinya. Kedua aliran mimasa baik phrabakara maupun kumarila bhata sama-sama mengajarkan adanya empat unsur di alam ini yaitu: substansi, kualitas, aktifitas dan sifat umum.
Substansi menurut Prabhakara terdiri dari sembilan (9), yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, akal, pribadi, ruang, waktu. Sedang substansi menurut Kumarita Bhata mengajarkan ada sebelas (11) yaitu sembilan sama dengan Prabhakara dan ditambah dua yaitu kegelapan (tamasa) dan suara.
Substansi itu adalah sesuatu yang dapat diamati karena terdiri dari atom-atom yang dapat diamati seperti debu halus yang tampak dalam sinar matahari. Substansi, kwalitas dan sifat umum sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dan dibedakan secara mutlak walaupun ketiganya itu sebenarnya berbeda karena ketiga-tiganya mewujudkan satu kesatuan yang bulat.
Contoh: daun itu hijau dan berfungsi sebagai alat fotosintesis. Daun dengan warna hijaunya dan sifat umumnya tidak dapat dipisahkan secara mutlak dan ketiganya itu mewujudkan satu kesatuan yang bulat sehingga menampakkan suatu benda.
b. Weda dalam filsafat Mimamsa
Mimamsa mendasarkan ajarannya pada kitab suci weda dan weda diakui sebagai sumber pengetahuan yang maha sempurna. Weda itu bukan hasil karya manusia karena weda itu amat sempurna sedangkan manusia tidak sempurna adanya. Walaupun demikan weda bukan pula ciptaan Tuhan karena weda telah ada tanpa ada yang mengadakan dan weda ada dengan sendirinya serta bersifat kekal abadi. Kebenaran weda mencakup kebenaran di dunia yang nyata ini dan di dunia yang tidak tampak oleh manusia.
Dalam filsafat Mimamsa, liturgi Weda dijelaskan melalui sejumlah besar data yang disampaikan dalam 900 judul terpisah, yang disebut adhikarama. Setiap judul mengandung argumen lengkap mengenai subjek tertentu. Judul terdiri atas lima bagian, yakni: topik masalah (vaisyaya), keraguan (samasya), argumen awal mengankat keraguan (purva-paksha), argument berlawanan yang mencoba membantah argument awal (uttarapaksha), dan kesimpulan (nirnaya). Dengan cara ini, Mimamsa merumuskan secara canggih pola-pola liturgy ortodoks kitab Weda.
3. Penutup
Kesimpulan
A. Nyaya
• artinya suatu penelitian yang analitis dan kritis. Oleh karena itu sistem nyaya membicarakan bagian umum filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian yang kritis.
• Pendiri ajaran ini adalah Mahersi Gautama (4 SM)
• Dalam Nyaya ada empat alat atau cara untuk mencari atau mendapatkan pengetahuan yang benar, diantaranya ialah:
1. Pratyaksa (pengamatan)
2. Anumana (penyimpulan)
3. Upamana (pembandingan)
4. Sabda (kesaksian)
Tuhan dalam filsafat Nyaya
• Karena Nyaya meyakini kebenaran weda, maka penganut Nyaya (Naiyayika) percaya akan adanya Tuhan dan Tuhan disamakan dengan siwa
• Menurut Nyaya Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan dunia. Ia tidak menciptakan dunia dari ketiadaan, tetapi dari atom-atom eternal
• Tuhan sebagai penyebab efisien dunia, demikian juga Tuhan merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua makhluk hidup di dunia ini yang bebas dari kerja, ia secara relatif bebas, yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan oleh dia dibawah direksi dan arahan Tuhan
• Untuk membuktikan adanya Tuhan Nyaya mengemukakan dua macam pembuktian tentang Tuhan yaitu:
1. Bukti Kosmologi
2. Pembuktian Teleologis
Alam dalam filsafat Nyaya
• alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi.
• . Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi.
• Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya.
Kelepasan dalam filsafat Nyaya
• Kelepasan akan dapat dicapai dengan melalui pengetahuan yang benar dan sempurna.
• Pengetahuan itu akan didapat dari tuntunan Tuhan melalui ajaranNya.
• Sebagai wujud dari kelepasannya lah terbebasnya jiwatma dari kelahiran kesenangan maupun penderitaan.
• Agar kelahiran dan derita terhenti maka hendaklah aktifitas (kerja) dihentikan
• Untuk menghentikan aktifitas maka orang (makhluk) harus melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebenaran sejati
B. Mimamsa
• Istilah Mimamsa berasal dari kata dasar man berarti ’berfikir’, ‘memperhatikan’, ‘menimbang’, atau ‘menyelidiki’
• Menurut Matius Ali, secara etimologis kata Mimamsa berarti ‘bertanya’ atau ‘penyelidikan’.
• Bagian pertama dari filsafat ini adalah Purva Mimamsa, sedangkan bagian kedua disebut Uttara Mimamsa.
• Untuk menghindarkan kebingungan, maka Purva Mimamsa disebut dengan Mimamsa, sedangkan Uttara Mimamsa disebut dengan Vedanta
• Pembina sistem Mimamsa adalah Jamini
• Filsafat Mimamsa adalah sebuah disiplin esoteris. Tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan surgawi dengan merealisasikan suara kosmis (Sabda Brahman).
Alam dalam filsafat Mimamsa
• Mimasa mengatakan bahwa alam ini riil dan kekal serta terjadi dari atom-atom yang kekal pula
• Substansi menurut Prabhakara terdiri dari sembilan (9), yaitu: bumi, air, api, hawa, akasa, akal, pribadi, ruang, waktu,
• Substansi menurut Kumarita Bhata mengajarkan ada sebelas (11) yaitu sembilan sama dengan Prabhakara dan ditambah dua yaitu kegelapan (tamasa) dan suara.
Weda dalam filsafat Mimamsa
• Mimamsa mendasarkan ajarannya pada kitab suci weda dan weda diakui sebagai sumber pengetahuan yang maha sempurna
• weda telah ada tanpa ada yang mengadakan dan weda ada dengan sendirinya serta bersifat kekal abadi.
• Dalam filsafat Mimamsa, liturgi Weda dijelaskan melalui sejumlah besar data yang disampaikan dalam 900 judul terpisah, yang disebut adhikarama.
• Judul terdiri atas lima bagian, yakni: topik masalah (vaisyaya), keraguan (samasya), argumen awal mengankat keraguan (purva-paksha), argument berlawanan yang mencoba membantah argument awal (uttarapaksha), dan kesimpulan (nirnaya).
DAFTAR PUSTAKA
• Djam’annuri,Agama Kita perspektif Sejarah Agama-Agama, Penerbit Kurnia Kalam Semesta, Jakarta:2009
• Harsa Swabodhi, opamana-pramana Budha Dharna dan Hindu Dharma, Medan:Yayasan Perguruan Budaya & Budaya, 1980
• Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta:1989
• I Gede Rudia Adiputra dkk, Tattwa Darsana, Yayasan Dharma Sarathi, Jakarta:1990
• I Made Titib, Pengantar Weda, Hanuman Sakti, Jakarta: 1996
• Matius Ali, Filsafat India, Sanggar Luxor, Karang Mulya: 2010, cet l
• Teja Surya, filsafat Nyaya diakses pada 12 september 2012, http://www.tejasurya.com/artikel-spiritual/filsafat/87.html
• Wikipedia, kosmologi Hindu, diakses pada 19 sept 2012, dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kosmologi_Hindu
Hinduisme
Rabu, 05 Desember 2012
gerakan dalam keagamaan dalam agama Hindu dipengaruhi Kristen, Ulil
A. Pendahuluan
India adalah tanah air dari berbagai suku bangsa kebudayaan dan agama. kami telah menggambarkan gerakan agama ini pada halaman-halam terdahulu sekarang kita mencapai tahun dimana kita saksikan suatu usaha yang mengherankan dengan memasukkan segenap kepercayaan agam filsafat dan praktiknya kedalam satu sistem yang kita namakan Hinduisme.
Agama Hindu lahirdanberkembangpertamakalinyadilembahsungaisuciSindhu di India.Agama Hindu adalahsebuah agama yang berasaldari anakbenua India.Agama inimerupakanlanjutandari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakankepercayaansbangsa Indo-Iran (Arya). Agama inidiperkirakanmunculantaratahun 3102 SM sampai 1300 SM. Agama inimerupakan agama ketigaterbesar di duniasetelah agama Kristendan Islam denganjumlahumatsebanyakhampir 1 miliar jiwa.
pertemuan di india dengan agama kriten menimbulkan aliran-aliran baru juga . agama Kristen masuk india pada abad ke- 19.
Nah, di sini ini kemudian aliran itu berkembang mulai dari perkembangna dalam kekuasaan atau pengaruh penyebaran pergerakan yang diteruskan oleh pengikut-pengikutnya seperti halnya makalah ini , dimana Swami Vivekanada setelah ditinggal gurunya mengumpulkan para murid muridnya untuk membuat persatuan persaudaraan demi menjaga eksisten dari gurunya tersebut.
Di Sinilah saya sebagai penulis akan mencoba sedikit memaparkan atau memperjelas tentang gerakan Arya Samaj, meliputi latar belakang gerakan Arya Samay, tokoh, dan ada beberapa persayaratan untuk mengikuti/ menjadi seorang anggota tersebut dan masih banyak lagi tentang substansi dari ajaran-ajaran gerakan tersebut.
B. Arya Samay
Pada waktu itu orang Hindu dihadapkan dengan bermacam-macam keyakinan baik di dalam maupun diluar India. selain itu suasana politik politik tidak menguntungkan India. tekanan pemerintah inggris dirasakan berat sekali. masuknya kebudayaan barat di India, yang disertai dengan penerapan ilmu pengetahuan modern yaitu dengan adanya kereta api, telepon, telegraf dan lain sebagaianya mengubah pandangan banyak orang.
Timbullah persoalan, bagai mana memperbaharui Agama Hindu supaya dapat bersaing dengan agama-agama yang lain dan bagaimana dapat mengadakan sintese antara yang kuno dan yang baru, antara timur dan barat, agar supaya orang dapat memberikan jaminan akan keagungan akal dan roh India untuk menjawab segala tantangan inilah Arya Samaj didirikan.
Gerakan ini didirikan oleh Swami dayananda Saraswati (1824-1883) yang berusaha melakukan penafsirkan kembali ajaran agama Hindu. sloganya adalah “kembali kepada Weda”. dengan tekanan penting pada usahanya untuk membuktikan bahwa segala hasil perkembangan ilmu pengetahuan modern pada dasarnya telah terdapat dalam kitab-kitab Weda.
Sarasvati menginginkan segenap lapisan masyarakat mempelajari kitab Weda, karena Weda bukan monopoli orang-orang dwijati saja. ajaran pokoknya adalah untuk mengembalikan dan memperbaiki agama Hindu untuk memperkuat teknologi modern di india dan menolak dominasi Barat, baik dalam bidang pemikiran, Agama moral, maupun dalam politik.
Gerakan ini meyakini bahwa kitab Weda adalah abadi dan merupakan dasr dari agma Hindu, akan tetapi menafsirkannya sedemikian rupa sehingga kadang-kadang di anggap tidak beralasan oleh orang-orang Hindu yangberaliran ortodoks (terutama di kalangan Sanatana Dharmis) . sikapnya ynag tidak mengakui sistem kasta (dwijati ) tadi diharapkanya akan tetapi mengembalikan orang-orang Hindu yang telah menganut Islam dapat dikembalikan kepada agamanya semula. para pengikut Arya Samay ini dikenal sebagai tokoh-tokoh yang militan dalam garakan Agama Hindu di India .
Gerakan Arya Samaj yang didirikan oleh Dayananda Saraswati pada tahun, merupakan suatu gerakan gerakan keagamaan yang bersifat Semesta, terbuka bagi siapa saja tanpa memperdulikan kasta ataupun kebangsaanya.bagi gerakan tersebut, kebenaran kebenaran Weda adalah mutlak, tanpa mengandung kesalahan sama sekali. ia menolak politeisme dan pemujaan terhadap patung-patung yang ada dalam kuil-kuil yang didasarkannya pada kitab-kitab purana. dikatanya bahwa perbuatan semacam itu adalah perbuatan yang tidak bermoral. kalau pada umumnya ada anggapan bahwa orang-orang India dalam menerima Weda dalam memasukkan ke Dalamnya kitab-kitab Brahmana dan kitab Upanishat, maka Dayadana Sarawati membatasi keabsahanya hanya pada Weda Shamhita saja. ia juga menolak upacara-upacara yang dilakukan oleh para Brahmana, juga menolak kecenderungan advaita yang terdapat dalam Upanishad . Ia berpendapat bahwa kidung-kidung Weda mengajarkan hanya ada satu Tuhan saja ( monoteisme)yang harus di sembah secara spiritual, bukan dengan alat-alat atau patung-patung. tentang dewa-dewa yang jumlahnya sangat banyak dikatakan bahwa itu hanya merupakan sebutan saja dari “Tuhan” yang satu.Ia memang mengakui karma dankelahiran akan tetapi menolak bahwa tersebut di ajarkan dalam Weda.menurut Dayananda , kitab-kitab Weda adalah sabda Tuhan yang bersifat Kekal, dan karena itu tidak mengundang persoalan dan kesejarahan dan keinian .
Tidak jauh beda dengan gerakan Brahma samaj yang mempercayai bahwa Weda adalah dianggap penting dalam kehidupan manusia dan gerakan Brahma Samaj juga mengirimkan empat orang yang di pandang mamapu untuk hal ini dalam ke Benares untuk mempelajari dan menyalin kitab-kitab Weda dan harus melaporkan hasil-hasilnya. diantara hasil-hasilnya ialah bahwa gerakan Brahma Samaj ini menganggap Weda sebagai kebenaran yang sangat dijunjung tinggi .
Bisa di katakan bahwa gerakan ini (gerakan arya samaj) sangat dan amat berpegang teguh kepada Weda, menurut mereka Weda lah yang merupakan satu-satunya kitab yang paling benar. lantas apa persoalan atau masalah yang di hadapai oleh gerakan ini, gerkan ini tidak membatasi golongan atau orang-orang khusus untuk bisa menjadi anggota gerakan samaj, membuka lebar-lebar pintu untuk bisa masuk golongan tersebut.
untuk menjadi seorang anggota Arya Samay, seseorang harus memperhatikan dan memenuhi dari sepuluh ajaran pokok, diantaranya;
1. Tuhan adalah sebab pertama dari segala ilmu pengetahuan yang benar dengan segala sesuatu di kenal dengan nama-Nya .
2. Tuhan adalah segala kebenaran, segala pengetetahuan , segala sikap perbuatan . Tuhan berdiri sendiri , tidak bergantung pada apapun . Tuhan Maha besar, adil, Mahakasih, tidak diperkenankan, tidak terbatas, tidak berubah-rubah, tanpa permulaan, tidak sapat di bandingkan, sumberdari segala kekuatan, meliputi segala sesuatu, tidak akan musnah, kekal abadi, bebas dari rasa takut, Mahasuci dan merupakan sebab dari alam semesta. Hamya kepada-Nya lah sesemabahan diberikan.
3. Weda adalah kitab pengetahuan yang benar dan orang-orang Arya wajib membacanya, wajin memdengarkanya dengan baik pada kitab tersebut dibaca, wajib mengajarkan dan mengembangkannya kepada orang lain.
4. orang harus menerima kebenaran dan menolak yang tidak benar.
5. segala perbuatan hanya dilakukan dengan mengharapkan kebaikanya semata dan harus dilakukan setelah mempertimbangkan baik dan buruknya terlebih dahulu.
6. Tujuan utama dari samay adalah berbuat baik dan melakukan kebaikan didunia dengan meningkatkan perbakan jasmani, rohani dan keadaan sosial manusia.
7. segala sesuatu harus dinyatakan dengan rasa cinta kasih, adil dan menjunjung tinggi kebaikan.
8. ketidaktahuan harus dihilangkan dan pengetahuan yang benar harus diresapi.
9. Tidak seorang pun boleh berpendapat bahwa hanya dirinya saja yang baik. orang harus menghargai kabaikan oarnag lain.
10. Menjunjung tinggi yang bermanfaat bagi keadaan sosial seluruh masyarakat dan tidak boleh memperturut diri mencampuri orang lain; akan tetapi dalam masalah pribadinya seseorang boleh berbuat batas.
Ajaran-ajaran yang sudah tertera diatas adalah bukti bahwa gerakan ini mempercaya Weda adalah satu satunya kitab yang paling agung, melihat dari salah satu pejelasan tentang Ajaran-ajaran gerakan tersebut (gerakan Arya samaj) salah satu dari ajaranya tersebut sama atau hampir mirip dengan agama Islam yang menyebutkan sifat-sifat yang menyerupai degan sifat Allah dalam agama Islam.
Nah disitu lah bisa di ambil kesimpulan bahwa ajara-ajaran tersebut (gerakan Arya samaj) salah satunya ada yang menyerupai dengan agama Islam, selain itu tetap ajaran-ajaran tersebut beda-beda persepsi dalam artian beda jalan tapi satu arahnya.
kebaktian yang dilakukan pada hari Minggu oleh gerakan ini barangkali agak terpengaruh oleh agama Kristen. Kebaktian yang dilakukan dengan menyanyikan kidung-kidung, doa-doa, khutbah ibadat korban sebagai mana yang diajarkan Weda. organisasi garakan ini sangat kuat dan memiliki sikap anti asing atau anti Kristen yang sangat kuat. Tetapi dalam hubunganya dengan Islam, gerakan ini mampu hidup bersama-sama untuk jangka waktu yang cukup lama.
C. Kesimpulan
Dilihat dari latar belakang sendiri dari gerakan ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa gerakan ini ada masalah politik dari barat(masuknya negara barat ke India) dan tekanan –tekanan yang di hadapi orang Hindu zaman dahulu mengakibatkan perubahan-perubahan yang tidak diperkirakan. gerakan ini didirikan oleh “Dayananda Sarasvati” pada tahun 1875.
Dan mengenai kitab-kitab bahwa gerakan keagamaan ini (gerakan Arya samaj) itu mempercayai kitab yang sangat benar dan sangat suci itu adalah “Weda” (kitab suci dari agama Hindu). mereka juga membuat slogan dari kitab tersebut yaitu “kembaki ke Weda”, di sisi gerakan itu juga tidak mengecam atau membeda-bedakan siapa saja yang akan masuk dalam golongan ini (gerakan Arya Samaj) apakah Ras, dari golongan darah biru, orang biasa bahkan dari orang yang kurang beruntung nasibnya dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka
Mukti, Ali. Agama-Agama Dunia, Yogyakarta : IAIN sunan Kali Jaga Press,1988
http://pustaka-juned.blogspot.com/2011/04/bab-i-agama-hindu_07.html di akses pada tanggal 16 september 2012
http://aaiil.org/indonesia/indonesianbooksislamahmadiyya/misc/agamabesardunia/agamabesarduniagreatreligionsworld di akses pada tanggal 16 september 2012
Salby, Ahmad, Agama-Agama Besar India (Hindu-jaina- Budha), Bumi Aksara Jakarta 1998
http://www.padmabhuana.com/Evolusi-Agama-Hindu-di-India-dan-Budayanya.htm di akses pada tanggal 15 sepetember 2012
http://moegrafis.blogspot.com/2011/05/agama-hindu.html di akses pada tanggal 17 september 2012
India adalah tanah air dari berbagai suku bangsa kebudayaan dan agama. kami telah menggambarkan gerakan agama ini pada halaman-halam terdahulu sekarang kita mencapai tahun dimana kita saksikan suatu usaha yang mengherankan dengan memasukkan segenap kepercayaan agam filsafat dan praktiknya kedalam satu sistem yang kita namakan Hinduisme.
Agama Hindu lahirdanberkembangpertamakalinyadilembahsungaisuciSindhu di India.Agama Hindu adalahsebuah agama yang berasaldari anakbenua India.Agama inimerupakanlanjutandari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakankepercayaansbangsa Indo-Iran (Arya). Agama inidiperkirakanmunculantaratahun 3102 SM sampai 1300 SM. Agama inimerupakan agama ketigaterbesar di duniasetelah agama Kristendan Islam denganjumlahumatsebanyakhampir 1 miliar jiwa.
pertemuan di india dengan agama kriten menimbulkan aliran-aliran baru juga . agama Kristen masuk india pada abad ke- 19.
Nah, di sini ini kemudian aliran itu berkembang mulai dari perkembangna dalam kekuasaan atau pengaruh penyebaran pergerakan yang diteruskan oleh pengikut-pengikutnya seperti halnya makalah ini , dimana Swami Vivekanada setelah ditinggal gurunya mengumpulkan para murid muridnya untuk membuat persatuan persaudaraan demi menjaga eksisten dari gurunya tersebut.
Di Sinilah saya sebagai penulis akan mencoba sedikit memaparkan atau memperjelas tentang gerakan Arya Samaj, meliputi latar belakang gerakan Arya Samay, tokoh, dan ada beberapa persayaratan untuk mengikuti/ menjadi seorang anggota tersebut dan masih banyak lagi tentang substansi dari ajaran-ajaran gerakan tersebut.
B. Arya Samay
Pada waktu itu orang Hindu dihadapkan dengan bermacam-macam keyakinan baik di dalam maupun diluar India. selain itu suasana politik politik tidak menguntungkan India. tekanan pemerintah inggris dirasakan berat sekali. masuknya kebudayaan barat di India, yang disertai dengan penerapan ilmu pengetahuan modern yaitu dengan adanya kereta api, telepon, telegraf dan lain sebagaianya mengubah pandangan banyak orang.
Timbullah persoalan, bagai mana memperbaharui Agama Hindu supaya dapat bersaing dengan agama-agama yang lain dan bagaimana dapat mengadakan sintese antara yang kuno dan yang baru, antara timur dan barat, agar supaya orang dapat memberikan jaminan akan keagungan akal dan roh India untuk menjawab segala tantangan inilah Arya Samaj didirikan.
Gerakan ini didirikan oleh Swami dayananda Saraswati (1824-1883) yang berusaha melakukan penafsirkan kembali ajaran agama Hindu. sloganya adalah “kembali kepada Weda”. dengan tekanan penting pada usahanya untuk membuktikan bahwa segala hasil perkembangan ilmu pengetahuan modern pada dasarnya telah terdapat dalam kitab-kitab Weda.
Sarasvati menginginkan segenap lapisan masyarakat mempelajari kitab Weda, karena Weda bukan monopoli orang-orang dwijati saja. ajaran pokoknya adalah untuk mengembalikan dan memperbaiki agama Hindu untuk memperkuat teknologi modern di india dan menolak dominasi Barat, baik dalam bidang pemikiran, Agama moral, maupun dalam politik.
Gerakan ini meyakini bahwa kitab Weda adalah abadi dan merupakan dasr dari agma Hindu, akan tetapi menafsirkannya sedemikian rupa sehingga kadang-kadang di anggap tidak beralasan oleh orang-orang Hindu yangberaliran ortodoks (terutama di kalangan Sanatana Dharmis) . sikapnya ynag tidak mengakui sistem kasta (dwijati ) tadi diharapkanya akan tetapi mengembalikan orang-orang Hindu yang telah menganut Islam dapat dikembalikan kepada agamanya semula. para pengikut Arya Samay ini dikenal sebagai tokoh-tokoh yang militan dalam garakan Agama Hindu di India .
Gerakan Arya Samaj yang didirikan oleh Dayananda Saraswati pada tahun, merupakan suatu gerakan gerakan keagamaan yang bersifat Semesta, terbuka bagi siapa saja tanpa memperdulikan kasta ataupun kebangsaanya.bagi gerakan tersebut, kebenaran kebenaran Weda adalah mutlak, tanpa mengandung kesalahan sama sekali. ia menolak politeisme dan pemujaan terhadap patung-patung yang ada dalam kuil-kuil yang didasarkannya pada kitab-kitab purana. dikatanya bahwa perbuatan semacam itu adalah perbuatan yang tidak bermoral. kalau pada umumnya ada anggapan bahwa orang-orang India dalam menerima Weda dalam memasukkan ke Dalamnya kitab-kitab Brahmana dan kitab Upanishat, maka Dayadana Sarawati membatasi keabsahanya hanya pada Weda Shamhita saja. ia juga menolak upacara-upacara yang dilakukan oleh para Brahmana, juga menolak kecenderungan advaita yang terdapat dalam Upanishad . Ia berpendapat bahwa kidung-kidung Weda mengajarkan hanya ada satu Tuhan saja ( monoteisme)yang harus di sembah secara spiritual, bukan dengan alat-alat atau patung-patung. tentang dewa-dewa yang jumlahnya sangat banyak dikatakan bahwa itu hanya merupakan sebutan saja dari “Tuhan” yang satu.Ia memang mengakui karma dankelahiran akan tetapi menolak bahwa tersebut di ajarkan dalam Weda.menurut Dayananda , kitab-kitab Weda adalah sabda Tuhan yang bersifat Kekal, dan karena itu tidak mengundang persoalan dan kesejarahan dan keinian .
Tidak jauh beda dengan gerakan Brahma samaj yang mempercayai bahwa Weda adalah dianggap penting dalam kehidupan manusia dan gerakan Brahma Samaj juga mengirimkan empat orang yang di pandang mamapu untuk hal ini dalam ke Benares untuk mempelajari dan menyalin kitab-kitab Weda dan harus melaporkan hasil-hasilnya. diantara hasil-hasilnya ialah bahwa gerakan Brahma Samaj ini menganggap Weda sebagai kebenaran yang sangat dijunjung tinggi .
Bisa di katakan bahwa gerakan ini (gerakan arya samaj) sangat dan amat berpegang teguh kepada Weda, menurut mereka Weda lah yang merupakan satu-satunya kitab yang paling benar. lantas apa persoalan atau masalah yang di hadapai oleh gerakan ini, gerkan ini tidak membatasi golongan atau orang-orang khusus untuk bisa menjadi anggota gerakan samaj, membuka lebar-lebar pintu untuk bisa masuk golongan tersebut.
untuk menjadi seorang anggota Arya Samay, seseorang harus memperhatikan dan memenuhi dari sepuluh ajaran pokok, diantaranya;
1. Tuhan adalah sebab pertama dari segala ilmu pengetahuan yang benar dengan segala sesuatu di kenal dengan nama-Nya .
2. Tuhan adalah segala kebenaran, segala pengetetahuan , segala sikap perbuatan . Tuhan berdiri sendiri , tidak bergantung pada apapun . Tuhan Maha besar, adil, Mahakasih, tidak diperkenankan, tidak terbatas, tidak berubah-rubah, tanpa permulaan, tidak sapat di bandingkan, sumberdari segala kekuatan, meliputi segala sesuatu, tidak akan musnah, kekal abadi, bebas dari rasa takut, Mahasuci dan merupakan sebab dari alam semesta. Hamya kepada-Nya lah sesemabahan diberikan.
3. Weda adalah kitab pengetahuan yang benar dan orang-orang Arya wajib membacanya, wajin memdengarkanya dengan baik pada kitab tersebut dibaca, wajib mengajarkan dan mengembangkannya kepada orang lain.
4. orang harus menerima kebenaran dan menolak yang tidak benar.
5. segala perbuatan hanya dilakukan dengan mengharapkan kebaikanya semata dan harus dilakukan setelah mempertimbangkan baik dan buruknya terlebih dahulu.
6. Tujuan utama dari samay adalah berbuat baik dan melakukan kebaikan didunia dengan meningkatkan perbakan jasmani, rohani dan keadaan sosial manusia.
7. segala sesuatu harus dinyatakan dengan rasa cinta kasih, adil dan menjunjung tinggi kebaikan.
8. ketidaktahuan harus dihilangkan dan pengetahuan yang benar harus diresapi.
9. Tidak seorang pun boleh berpendapat bahwa hanya dirinya saja yang baik. orang harus menghargai kabaikan oarnag lain.
10. Menjunjung tinggi yang bermanfaat bagi keadaan sosial seluruh masyarakat dan tidak boleh memperturut diri mencampuri orang lain; akan tetapi dalam masalah pribadinya seseorang boleh berbuat batas.
Ajaran-ajaran yang sudah tertera diatas adalah bukti bahwa gerakan ini mempercaya Weda adalah satu satunya kitab yang paling agung, melihat dari salah satu pejelasan tentang Ajaran-ajaran gerakan tersebut (gerakan Arya samaj) salah satu dari ajaranya tersebut sama atau hampir mirip dengan agama Islam yang menyebutkan sifat-sifat yang menyerupai degan sifat Allah dalam agama Islam.
Nah disitu lah bisa di ambil kesimpulan bahwa ajara-ajaran tersebut (gerakan Arya samaj) salah satunya ada yang menyerupai dengan agama Islam, selain itu tetap ajaran-ajaran tersebut beda-beda persepsi dalam artian beda jalan tapi satu arahnya.
kebaktian yang dilakukan pada hari Minggu oleh gerakan ini barangkali agak terpengaruh oleh agama Kristen. Kebaktian yang dilakukan dengan menyanyikan kidung-kidung, doa-doa, khutbah ibadat korban sebagai mana yang diajarkan Weda. organisasi garakan ini sangat kuat dan memiliki sikap anti asing atau anti Kristen yang sangat kuat. Tetapi dalam hubunganya dengan Islam, gerakan ini mampu hidup bersama-sama untuk jangka waktu yang cukup lama.
C. Kesimpulan
Dilihat dari latar belakang sendiri dari gerakan ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa gerakan ini ada masalah politik dari barat(masuknya negara barat ke India) dan tekanan –tekanan yang di hadapi orang Hindu zaman dahulu mengakibatkan perubahan-perubahan yang tidak diperkirakan. gerakan ini didirikan oleh “Dayananda Sarasvati” pada tahun 1875.
Dan mengenai kitab-kitab bahwa gerakan keagamaan ini (gerakan Arya samaj) itu mempercayai kitab yang sangat benar dan sangat suci itu adalah “Weda” (kitab suci dari agama Hindu). mereka juga membuat slogan dari kitab tersebut yaitu “kembaki ke Weda”, di sisi gerakan itu juga tidak mengecam atau membeda-bedakan siapa saja yang akan masuk dalam golongan ini (gerakan Arya Samaj) apakah Ras, dari golongan darah biru, orang biasa bahkan dari orang yang kurang beruntung nasibnya dan lain sebagainya.
Daftar Pustaka
Mukti, Ali. Agama-Agama Dunia, Yogyakarta : IAIN sunan Kali Jaga Press,1988
http://pustaka-juned.blogspot.com/2011/04/bab-i-agama-hindu_07.html di akses pada tanggal 16 september 2012
http://aaiil.org/indonesia/indonesianbooksislamahmadiyya/misc/agamabesardunia/agamabesarduniagreatreligionsworld di akses pada tanggal 16 september 2012
Salby, Ahmad, Agama-Agama Besar India (Hindu-jaina- Budha), Bumi Aksara Jakarta 1998
http://www.padmabhuana.com/Evolusi-Agama-Hindu-di-India-dan-Budayanya.htm di akses pada tanggal 15 sepetember 2012
http://moegrafis.blogspot.com/2011/05/agama-hindu.html di akses pada tanggal 17 september 2012
sumber-sumber pokok
REVISI MAKALAH
HINDUISME
Topik VI: Sumber-sumber pokok
Dipresentasikan pada tanggal 11 Oktober 2012
Di buat untuk memenuhi syarat perkuliahan
Mata kuliah Hinduisme
ENIS KHAERUNISA
1111032100021
FAKULTAS USHULUDDIN
PRODI PERBANDINGAN AGAMA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
A. Pendahuluan
Kitab-kitab suci Hindu secara luas dalam dikelompokkan dalam 2 golongan. Pertama adalah Sruti (“itu yang didengar”) dan yang lain adalah Smriti (“itu yang diingat”). Kedua kelompok kitab-kitab suci ini dianggap “wahyu Tuhan” sama seperti semua kitab-kitab Injil dianggap mendapat inspirasi Tuhan.
B. Kitab Suci
Kitab suci Hindu ditulis dalam kurun waktu berabad-abad dan menggunakan berbagai bentuk tulisan. Kitab-kitab suci itu meliputi teks-teks filsafat yang sulit dimengerti sampai dengan legenda-legenda dan cerita-cerita kepahlawanan.
Kitab Hinduisme dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu kitab-kitab shruti dan kitab-kitab Smriti, adapun kpenjelasan kitab-kitab tersebut adalah:
1. Shruti
Shruti (yang didengar) di anggap sebagai yang suci yang berada di dalam asal usul segala sesuatu. Kitab-kitab Shruti berisi pujian-pujian kuno dari kitab Veda, yang ditulis pada akhir milenium kedua BCE dalam bahasa sansekerta, bahasa India kuno. Rig Veda, kitab yang paling kuno dan paling suci, adalah kitab yang berisi 1.028 puisi yang merefleksikan kehidupan pengembaraan bangsa aria yang berperang, yang bergembira karena terbitnya matahari setiap pagi dan yang merefleksikan heningnya malam sunyi.
Kitab-kitab Upanishad adalah bagian terakhir dari kitab-kitab Veda. Judul kitab itu mengacu pada murid yang duduk di laki-laki guru untuk mendapatkan kebijakan kitab-kitab Upanishad memuat 120 percakapan antara guru dan muridnya serta berisi semua ajaran Hindu yang paling penting-yaitu mengenai Brahman dan atman.
C. Smriti
Kitab-kitab Smiriti (yang diingat) adalah kitab-kitab suci tentang asal-usul manusia. Kitab suci itu berisi cerita rakyat yang cerita rakyat yang diceritakan oleh penutur-penutur terlatih. Ramayana, kitab yang memuat 48.000 baris puisi, memceritakan kisah rama dan shinta serta merpakan sumber ajaran dan nasihat spiritual yang besar bagi orang Hindu. Yakni setiap tradisi (ucapan, perbuatan, tulisan). Yang mengandung ajaran seseorang rishi (orang suci) atau ajaran seseorang acharya (guru) ataupun ajaran avatar (interaksi-ilahi) seumpama Krishna dan lainnya didalam himpunan Smiriti itu termasuk Brahmanas,panishads, mahabhara, Bhagavadgita, Ramayana, Purana, dll.
yang termasuk golongan kedua itu pada masa belakangan memalui wewenang-resmi dinyatakan kitab-suci guna mengahmbat sesuatu tantangan ataupun keraguan-raguan. Dengan begitu kedudukan Smiriti itu disamakan dengan kedudukan Sruti.
Kitab itu dipanggil dengan Brahma-sutras, yakni benang sulam melalui himpunan Brahmanas. Kitab-kitab berisikan komentar itu disusun oleh para acharyas pada abad-abad menjelang dan sesudah tahun masehi.
Disamping itu lahir kesusasteraan yang mengambil themanya dari keyakinan agamawi ataupun sesuatu ajaran agamawi mengenai masalah kehidupan dan kemasyarakatan, dan kitab-kitab golongan itu dipanggilkan dengan Brahmana-shastras. yang Termasuk dalam golongan Brama-shastras itu ialah kitab-kitab mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seumpamanya astronomi, ketabiban, logika, matematika, bahasa, dan lainnya.baikpun Brahama-sustras maupun Brahama-shastras itu termasuk kedalam himpunan kitab suci.
D. Kitab Brahmana dan Aranyaka
Berbeda dari naskah atau kitab Samhita, kitab brahmana disusun oleh para pendeta Brahmana sekitar abad ka-8 S.M kitab tersebut bukanlah puji-pujian kepada para dewa, tetapi merupakan kitab yang berisi keterangan-keterangan dari para tentang korban dan sasaji. Uraian-uraian didalamnya banyak yang membosankan dan sungkar dipahami padahal pikiran dasarnya justru sangat sederhana. Keterangan-keterangan tersebut disertai dengan mitos dan legende tentang manusia dan dewa dengan memberikan ilustrasi ritus-ritus korban. Pada bagian akhir kitab terdapat tambahan yang disebut kitab Aranyaka yang berisi tentang renungan sekitar masalah korban sehingga dianggap sakti. Karena itu mempelajarinya harus ditempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia, yaitu ditengah-tengah hutan. Selain kitab brahmana masih ada lagi kitab lain yang pada intinya menguraikan masalah korban, cara melakukannya, mantra-mantra yang harus diucapkan dan cara pengucapannya.
Kitab-kitab tersebut denga kitab Wedanga yang merupakan hasil pemikiran para resi. Peraturan-peraturan yang di ajarkan didalam harus dipatuhi dan ditaati supaya korban tidak kehilangan daya kekuatan.
Isi kitab Wedanga dapat dianggap sebagai permulaan ilmu pengetahuan di India tentang fonetika paramasatra, etimologi, teori sanjak, ilmu perbandingan dan aturan-aturan pergaulan dalam masyarakat. Kitab paramasastra yang sangat terkenal adalah karya panini. Seorang pujangga yang hidup sekitar abad 5 S.M.
Kitab yang berisi pedoman tentang berbagai masalah kepercayaan tersebut Sutra, bahasanya padat, kalimatnya singkat termasuk Sutra Vadanga adalah kalpa Sutra atau Srauta-Sutra yang berisi tentang upacara korban besar dan Grhya-sutra, tentang orban kecil. Dharma-Sutra berisi hukum-hukum Hindu.
Dharma-Sastra termasuk kesusastraan Brahmana dan merupakan kitab undang-undang yang mengatur berbagai segi kehidupan manusia. Isinya bercampur dengan kitab lainnya, yaitu tentang pengetahuan dan dongeng-dongeng. Yang sangat terkenal adalah Manawa-Dharma-sastra yang menurut mitologi terkarang oleh manu (manusia pertama), kitab ini berpengaruh terhadap umat Hindu dewasa ini baik di India maupun di Indonesia. Kepercayaan-kepercayaan yang termuat dalam kitab wedangga dikenal dengan agama Brahmana.
Tingakatan pemikiran pada Brahmana (pemikiran Weda) merupakan tafsiran yang berupa prosa, sangat terinci dan isinya berupa kidung-kidung korban atau beberapa upacara lain. Brahmanas berarti “pertautan dengan brahman” tafsiran-tafsiran ini biasanya terdiri dari ajaran-ajaran yang memerintahkan untuk mengamalkan perbutan yang jelek. Semuanya tadi dinyatakan dengan Arthavada yang mengambil bentuk puji-pujian terhadap kebaikan (biasanya disebut Stuti) dan celaan atau kecaman terhadap yang buruk (disebut Ninda).
Dalam kitab brahman terdapat mitos dan legende kuno yang ditulis Purakalpa, Orakerti. Tulisan weda pada brahmana memperlihatkan adanya perkembangan cerita dan mitos tentang dewa-dewa, juga tenang kosmologi yang digambarkan dalam kidung-kidung, kitab Brahmana bercorak interpretasi esoterik dan simotik . masing-masing dewa da ritusnya tidak dapat dilepaskan dari tiga hal, yaitu adhiyajna (korban) dan adhayatman (yang bersifat mistis dan filosofis).
Dalam agama brahmana pemujaan terhadap matahari sangat ditekankan, kalau siwa dan beberapa kidungnya banyak tercantum dalam Yajur weda, maka kitab Aranyaka (bagian akhir kitab brahmana) berisi rangkaian doa yang panjang yang ditunjukan terhadap matahari, yang disebut Suryanamaskar
.
- Perubahan pada agama Brahmana
Dalam kitab yang sebelumnya, terutama pada Samhita dan mantra, selik beluk korban terhadap dewa belum duketahui. Penjelasan mengenai cara dan peraturan penyelengaraan korban baru ada dalam kitab brahmana, disertai tafsiran-tafsiran yang dilengkapi dalam kitab Wedanga, sejalan dengan itu maka pandangan terhadap penting tidaknya suatu dewa juga mengalami perubahan , beberapa dewa bahkan kemudian tidak memegang peranan penting lagi. Dewa waruna sebagai pengawas tata tertib kosmos berubah turun martabatnya menjadi dewa laut. Dewa-dewa yang kemudian muncul dalam agama adalah dewa Brahma dan Siwa. Yang dianggap jauh dari manusia dewa Mitra juga tidak pernah disebut-sebut lagi, Wisnu dalam perkembangan yang kemudian menjadi Prajapati. Dewa rudra menjadi sangat penting dan disebut dengan Siwa-Ruda
- Isi kitab brahmana terdiri atas dua bagian. Bagian pertama memberi uraian tentang peraturan-peraturan untuk persembahan, yang memberikan tafsiran tentang peraturan-peraturan didalam Weda. Yang kedua adalah sejenis kitab. Kitab hukum atau dharmasastra. Sebernarnya kitab itu ialah kumpulan patoka-patokan bagi seluruh kehidupan menurut patoka-patokan itu seluruh kehidupan harus di selenggarakan. Kitab-kitab itu membicarakan segala hal hingga dewasa ini kitab hukum manu.
Yakni manusia pertama menurut dongengan, ialah Manawadharmasastra masih di akui. Bahkan kitab-kitab hukum Bali dan Jawa Kuno didasarka pada kitab tersebut oleh hukum-hukum dan patokan-patokan itu diatur dan di pertajamlah perbedaan antara berbagai golongan yang merupakan penduduk India yang sangat tercampur dan bermacam-macam. Selain kasta-kasta yang dahulu telah disebut, terjadilah sekarang sejumlah kasta tercampur karena perkawinan tercampur. Tetapi orang tidak dapat naik kasta karena perkawinan, kalau turun kasta dapat, di luar kasta-kasta para paria, termasuk pula kedalam segala orang asing. Ketiga kasta yang tertinggi (brahmana, ksatria, waisya) boleh memakai kalung kasta dan membaca Weda dan mereka dipandang sebagai keturunan bangsa arya karena termasuk kedalam salah satu kasta (upananyana), seolah-olah berarti suatu kelahiran yang kedua, maka anggota-anggota ketiga kasta yang tertinggi disebut para dwiya artinya orang yang lahir dua kali.
- Ketiga bnyak di jumpai dalam kitab brahmana banyak keterangan tentang keadaan tertentu di dalam hidyp manusia atau du dalam alam dengan pertolongan mitologi.
E. Kitab ittihasa dan Puran
Belakangan ini ada perbincangan yang mempersoalkan apakah itihasa itu kitab suci Hindu ataukah tidak, Ada banyak kitab Ittihasa, namun dua yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabharata. Kitab suci dalam ulasan ini adalah kitab suci sebagai pegangan sebuah agama. Jadi, kalau kita berbicara di depan umum, apakah kitab suci agama Hindu itu? Jawabnya adalah Weda. Apakah Itihasa bukan kitab suci? Bukan! Apakah lontar bukan kitab suci? Bukan!
Kitab suci Hindu, sebagaimana kitab suci agama lainnya, adalah wahyu Tuhan. Dalam Hindu ini disebut Sruti. Weda adalah Sruti yang wahyunya diterima oleh tujuh resi agung. Weda terdiri dari empat (catur) yaitu Reg Weda, Yajur Weda, Sama Weda dan Atharwa Weda. Kemudian menyusul kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad yang dikelompokkan ke dalam Weda sehingga disebut Catur Weda Samhita. Selanjutnya ada kitab-kitab Sutra, Dharmasastra, Itihasa, Purana dan kitab-kitab Darsana digolongkan sebagai Susastra Hindu. Ada buku baru dari Prof. Made Titib yang mengulas masalah ini secara menarik, judulnya “Itihasa Ramayana dan Mahabharata (Viracarita).”
Weda dan Susastra Hindu itu dikelompokkan dengan menarik oleh Vatsyayasa dalam bukunya Nyayasutrabhasya. Garis besarnya begini: Weda adalah pedoman umum dan acuan dalam ritual (yadnya). Itihasa dan Purana menguraikan “sejarah dunia” dan tentang umat manusia. Weda adalah sumber utama dari wahyu Tuhan, sumber segala dharma dan hukum Hindu.
Itihasa dan Purana menguraikan ajaran dalam Weda dengan kisah-kisah menarik sehingga mudah untuk diterima umat. Karena begitu sulitnya mempelajari Weda, apalagi di masa lalu sarana untuk itu terbatas, maka para Rsi membuat kisah-kisah Itihasa, tujuannya tiada lain untuk menyebarkan isi Weda itu sendiri. Di zaman emas Kerajaan Majapahit di mana Hindu berkembang bagus, dalam kitab Sarasamuccaya dimuat sloka yang terjemahannya begini: “Veda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna melalui jalan Itihasa dan Purana sebab Weda akan takut pada orang-orang yang sedikit pengetahuannya.” Maksudnya adalah mulailah mengenal Itihasa dan Purana lebih dahulu, kemudian setelah pengetahuan menjadi bertambah, baru ke Weda. Sampai saat ini pun, meski kitab Weda sudah diterjemahkan dan dijual di toko buku, masih sulit mempelajarinya jika tidak didampingi seorang guru atau nabe.
Itihasa dan Purana memang ajaran suci, tetapi bukan kitab suci. Pertama, karena itu bukan wahyu Tuhan. Kedua, karena bentuk Itihasa adalah kisah, tentu ada kisah buruk dan kisah baik, yang buruk jangan dicontoh, yang baik dijadikan contoh. Ibarat seorang guru yang mengajar budi pekerti untuk anak usia Sekolah Dasar, pembelajaran lewat dongeng sangat dianjurkan. Weda sebagai wahyu Tuhan tentu tak memberi contoh yang buruk. Kitab suci semuanya mengajarkan dharma.
F. Pengertian Weda
Kata Veda dapat dikaji dari 2 pendekatan, yaitu etimologi dan etimologi dan semantik, kata Veda berasal dari kata kerja Vid yang artinya mengetahui dan Veda berarti pengetahuan. Dalam pengertian Semantik Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, pengetahuan tentang ritual, kebijaksanaan yang tinggi, pengetahuan spiritualsejati tentang kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci sumber ajaran Agama Hindu.
Veda dalam bentuk tunggal (dalam bahasa Inggris biasanya di tulis Veda) berarti pengetahuan suci sedang dalam bentuk jamaknya (dalam bahasa Inggris biasanya ditulis Vedas) berarti dalam pengertian luas yakni seluruh kitab Sruti terdiri dari 4 Veda (Mantra Samhita), kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan kitab-kitab Upanisad.
Tentang arti Veda, S, Radhakrishnan lebih jauh menyatakan “Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan dalam tahap kedua disebabkan oleh pengkajian yang lebih mendatail, sedang kebijaksanaan (Veda) adalah pengetahuan tahap awal (tngkatan yang pertama)yang diturunkan dari prinsip tak terciptakan.
9
Veda tidaklah susastra tunggal seperti Bhagavadgita atau sebuah himpunan sejumlah buku disusun dalam waktu tertentu seperti tripitaka, kitab suci agama Budha atau Biblenya pengenut Kristen, seluruh susastra yang muncul berabad-abad yang Islam diturunkan serta diteruskan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan. Pada saat tulisan belum ditemukan dan buku-buku belum tersedia ingatan manusia sangat kuat dan muncul tradisi untuk mengingat ini. Untuk dijadian pegangan umat manusa memerlukan waktu untuk memelihara susastra ini dan Veda sebagai dinyatakan adalah pengetahuan suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Wahyu ini dikuduskan sedemikian rupa dan menjadi standar pemikiran serta perasaan umat Hindu jadi Veda adalah pengetahuan dan kebijaksanaan suci dokument pertama dan tertua yang dimiliki oleh umat manusia.
Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa diyakini kebenarannya oleh suluruh umat Hindu. Kebenaran Veda tidak diragukan lagi. Veda adalah bahasa sangsekerta dan bahasa tetap juga digunakan sampai berkembangnya susastra Veda pada zaman sesudah Veda itu dihimpun dalam 4 himpunan yang disebut Samhita dan keempat Samhita itu dikenal dengan nama Catur Veda, yang terdiri: Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda.
Istilah atau nama Sansekerta sebagai nama bahasa ini di peopulerkan oleh seorang Maharsi Panini pada waktu itu mencoba menulis kitab Vyakarana, yaitu kitab tata bahasa Sansekerta yang terdiri dari 8 Adhyaya atau bab yang terkenal dengan nama Astadhyayi, yang mencoba mengemukakan bahwa bahasa yang digunakan dalam Veda adalah bahasa deva-deva yang
10
dikenal pula dengan nama daivivak yang artinya bahasa atau sabda devata.
Beberapa tahun kemudian atas jasa maharsi patanjali yang menulis kitab bahasa dan merupakan buku kritik terhadap karya Panini yang ditulis pada abad ke II S.M makin terungkaplah nama Daivivak untuk menamai bahasa yang digunakan dalam Veda termasuk pula digunakan dalam kitab Itihasa (sejarah), Purana (sejarah kuno), Smrti/Darmasastra (kitab-kitab hukum), Kitab-Kitab Agama (peganagn bagi Sampradaya atau Paksa seperti Saivagama, Tantrayana dan lain-lain, juga bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab Darsana (filsafat Hindu) dan susastra Hindu lainnya atau yang berkembang pada jaman sesudahnya.
G. Kedudukan Kitab Suci Veda
a. Veda, kitab suci, sumber ajaran agama Hindu
Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya, dari kitab Veda (Sruti) mengalirlah ajaranya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti,Itihasa, Purana, Darsana, dan Tatwa-Tatwa yang kita warisi di Indonesia.
Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan didunia ini dan di akhirat nanti. Veda menuntun tindakan manusia sejak lahir sampai pada nafasnya yang terakhir. Ajaran Veda tidak terbatas hanya tuntunan hidup individual, tetapi juga dalam hidup masyarakat, berbangsa dan bernegara, bagaimana hendaknya seseorang atau masyarakat bersikap dan bertindak, tugas-tugas individu dan tugas-tugas umum sebagai anggota masyarakat, demikian pula bagaimana seorang rohaniwan bertingkah laku,
tugas dan kewajiban kepada negara atau pemerintah dalam mengemban tugasnya. Segala tuntunan hidup ditunjukan oleh ajaran Veda yang terhimpun dalam kitab Samhita, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad, maupun yang dijelaskan kembali dalam kitab-kitab susastra Veda atau susastra Hindu lainnya.
b. Veda, wahyu Tuhan Yang Maha Esa
Seperti halnya setiap ajaran agam memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa jaran agama itu bersumber pada kitab suci, demikian pula umat Hindu yakin bahwa kitab sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Sruti artinya yang didengar. Veda sebagai himpunan sabda atau wahyu berasal dari: Apauruseya (yang artinya bukan dari Purusa atau manusia). Sebab para Rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai instrument (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran sucinya.
12
Terhadap pernyataan ini Svami Dayanada Sarasvati menyatakan: “Veda adalah sabdanya dan segala kuasanya bersifat abadi”, Svami Dayanandapun menambahkan: “Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atarvaveda berasal dan merupakan sabdanya, Tuhan Yang Maha Agung dan Sempurna, para Brahman yang memiliki kekuasaan yang menjadi dirinya sendiri, penuh kesadaran, supra empiris, dan sumber Svami Dayananda mengacu kepada Yajurveda berikut:
Tasmad yajnat sarvahuta
Rcah samani jajnire
Chandamsi jajnire tasmad
Yajus tasmad ajayata
(Yajurveda XXX.7.)
( dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanyalah umat manusia mempersembahkan berbagai Yajma dan dari padanya muncul Rgveda dan samavead)
Tentang para Rsi yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan menyampaikan secara lisan melalui tradisi kuno yakni sistem perguruan yang disebut “Parampara”, seorang filologist veda dan penyusun kitab Nikrukta bernama Yascacarya menyatakan:
Saksat krta dharman rsayo
Bubhuvuste’ saksat krta dharmabhya
Upadesena mantran sampraduh
Nirukta I. 19
(para rsi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan Dharma dengan sempurna, beliau mengajarkan hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan, yang belum merealisasikan hal itu).
Para rsi adalah mereka yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, karena kesuciannya pribadinya, mereka menerima sabda sucinya. Kata Rsi berasal urat kata drs yang artinya melihat atau memandang, dalam pengertian yang lebih luas berarti memparoleh atau menerima, oleh karena itu seorang Rsi disebut Mantradrasta (mantradrastarah itirsih).
Berdasarkan kutipan diatas para rsi adalah mereka yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, karena kesucian pribadinya mereka menerima sabda sucinya. Kata Rsi berasal darinurat kata drs yang artinya melihat atau memandang dalam pengertian yang lebih luas berarti memperoleh atau menerima oleh karena itu seorang Rsi disebut Mantradrasta (Mantradrastarah itirsih) ada beberapa cara seorang rsi menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, yaitu melalui:
1. Svaranada, yakni gema yang diterima para rsi dan gema tersebut berubah menjadi sabda atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa, kemudian wahyu itu disampaikan kepada siswanya didalam asrama (pasraman).
2. Upanisad, pikiran para rsi dimasuki oleh sabda Brahman sehinga pikiran para rsi itu berfungsi sebvagai sarana untuk menghubungkan Tuhan yang Maha Esa dengan para rsi tersebut.
3. Darsana atau Darsanam, yakni rsi atau orang suci berhadapan dengan Deva-deva seperti halnya Arjuna berhadapan dengan Deva Indra atau Siva dengan suatu pandangan gaib dengan mata Rohani.
4. Avatar, yakni manusia berhadapan dengan avatarnya seperti halnya Arjuna menerima wejangan sici Bhagavadgita dari Sri Krsna, Sang Purna Avatar.
c. Veda, sumber hukum Hindu
Maharsi Manu, peletak dasar hukum Hindu menjelaskan bahwa Veda adalah sumber dari segala Dharma atau hukum Hindu:
Vedo’khilo dharma mulam
Smrti sile ca tad vidam ,
Acarasca iva sadhunam
Atmanas tustir eva ca
Manavadharmasastra II.6.
(Veda adalah sumber dari segala Dharma, kemudian barulah smrti, disamping sila, Acara, dan Atamanastusti).
Berdasarkan kutipan diatas sumber-sumber hukum Hindu menurut kronologisnya, sebagai berikut
a. Veda (Sruti)
b. Smrti (Darmasastra)
c. Sila (tingkah laku orang suci)
d. Acara (tradisi yang baik)
e. Atmanastusti (keheningan hati)
d. Nama-nama lain kitab suci Veda
1. Kitab sruti, kitab Sruti menunjukan bahwa isi kitab itu merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang diterima oleh para maharsi seorangMaharsi yang artinya karena kesucian diri pribadinya mampu merekam sabda Tuhan Yang Maha Esa Yang disebut Aparuseya atau Tuhan yang Maha esa yang bukan berwujud manusia dalam susastra berbahasa jawa kuno.
2. Kitab Catur Veda. Nama Catur Veda dimaksudkan untuk mewujudkan bahwa Veda itu merupakan himpunan (Shamhita)
dari Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atarvaveda., tiga yang pertama diyakini umumnya jauh lebih tua, sesungguhnya Veda dapat dikelompokan dalam 2 jenis lainnya(Yajurveda, dan Samaveda) bersumber pada Rgveda.
3. Kitab Rahasya. Kata raharsya artinya bahwa Veda mengandung ajaran yang bersifat rahasia, yakni ajaran Moksa atau kelepasan. Ajaran Veda yang meliputi ajaran ketuhanan serta penciptaan alam semesta yang penuh misteri dan selalu menjadi pertanyaan serta usaha untuk bersatu dengannya merupakan tujuan tertinggi agama Hindu.
4. Kitab Agama. Kitab Agama menunjukan bahwa kebenaran Veda adalah mutlak dan harus diyakini kebenarannya. Kata Agama merupakan salah satu istilah Pramana yaitu tiga cara untuk menentukan kebenaran sesuatu, yaitu: Agama Pramana, Anumana, Pramana, dan Pratyaksa Pramana yang masing-masing berarti kebenaran yang disampaikan oleh orang-orang suci yang sangat diyakini kesucian pribadinya, kebenaran yang berdasarkan pertimbangan analisis yang sistematis dan kebenaran yang berdasarkan pengamatan.
5. Kitab Mantra. Kitab Mantraadalah nama lain dari kitab Veda, nama lain diberikan karena Veda berbentuk mantra atau puisi (syair) yang dapat pulandi lagukan. Mantra artinya ucapan yang keluar dari pikiran (manah) dan pikiran merupakan saluran membentuk rupa atau wujud yang dapat dibayangkan. Seluruh kitab sruti syairnya pada umumnya disebut mantra meliputi seluruh kitab-kitab samhite (Catur Veda), Brahmana, Aranyaka, dan kitab-kitab Upanisad di luar kitab tersebut syair-syairnya disebut Sloka, seperti kitab-kitab Itihasa lain.
H. Para RSI penerima wahyu Veda
1. Para Rsi penerima wahyu Veda
Veda pada mulanya diterima secara lisan dan disampaikan pula secara lisanmengingat Veda diturunkan itu belum dikenal tulisan, bahasa lisan lebih dulu digunakan baru kemudian ketika tulisan mantra-mantra Veda dituliskan kembali dan tentang penulisan kembali ini, secara tradisional berdasarkan kitab-kitab Purana, maharsi Vyasa atau Krsnadvaipayana yang menyusun atau menulis kembali ajaran Veda dalam 4 himpunan (samhita) dibantu oleh 4orang siswanya, yaitu Puhala, atau Paila, diyakini menyusun Rgveda, Vaisampayana, menyusun Yajurveda, Jaimini menyusun Samaveda dan Samantu menyusun Atharvaveda.
Seorang rsi adalah seorang rohaniawan, agamawan dan sekaligus seorang pemimpin, didalam kitab Purana pengelompokan rsi kedalam 3 kategori yaitu:
a. Devarsi,
b. Brahmarsi,
c. Rajarsi.
Didalam kitab Nirukta II.I, salah satu kitab Vedangga yang menyatakan:”bahwa para rsi ialah mereka yang dari uraian tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa jadi rsi itu ada kaitannya dengan penerima mantra hal ini semakin jelas bila membaca sebuah Sukta (hymne) dalam Veda menyebutkan Rsi, Devata, dan Canda, sebagai contoh Sukta pertama (Pratamasukta) dan Rgveda yang terdiri dari rsi: Vismitra dan Madhucchandha, devada: Agni dan Canda: Gayatri.
Umat Hindu berpandangan dengan banyak rsi itu umat mendapatkan teladan, figur dan penampilannya menjadi panutan, wejangan-wejangnnya memberikan kesejukan hati dan kebahagiaan yang tiada tara, misal karya maharsi Vyasa yang memadukan unsur sejarah dan mitologi dalam karya besarnya Mahabrata dan kitab-kitab Purana senantiasa dinikmati oleh mereka yang kehausan untuk mereguk mantra suci ajaranya.
Disamping pengelompokan kedalam 3 kategori tersebut diatas, kitab Matsya dan Brahmanda Purana menyebutkan 35 pengelompokan rsi sebagai berikut:
a. Brahmarsi
b. Satyarsi
c. Devarsi
d. Srutarsi
e. Rajarsi
Pengelompokan tersebut adalah penyempurnaan dari pengelompokan sebelumnya dengan menambahkan 2 kelompok baru yaitu Satyarsi dan Srutarsi, dari istilah-istilah ini dapat dipahami bhwa nama-nama kelompok ini hanya bersifat relatif fungsional dihubungkan dengan fungsi dan sifat dari seorang rsi.
Didalam Manava dharmasastra disebutka ada beberapa jenis guru demikian pula halnya dengan Brahmana, seorang guru di sebut Acarya bila ia telah menguasai selurh isi Veda, termasuk Itihasa, Purana, Vedanga dan kitab-kitab Susastra Hindu lainnyasebaliknya seorang Upadhyaya hanya dianggap cukup bila ia menguasai Vedanga. Selanjutnya seorang rsi sebagai Battara (pelindung)
sekaligus seorang pemimpin baik dalam bidang kerohanian, politik dan pemerintahan dan bahkan menjadi panglima perang sebagai contoh adalah rsi Bhisma, Dorna dan sebagainya. Didalam kitab Brahmanda Purana disebutka adanya 9 Prajapati yaitu: Bhrgu, Angita, Pulastya, Puhala, Kdeva, Saksa, Atri dan Vasista.
Di antara Prajapati adapula yang disebut namanya didalam kitab Rgveda sebagai rsi dikaitkan dengan mantra-mantra dalam kitab
suci ini, adapun 4 kelompok lainnya (Brahma, Satya, Sruta, dan Rajarsi). Didalam Brahmanda Purana masing-masing disebutka berturut-turut Sonaka, sananda, Sanatkumara.
Adapun Saptarsi dan keluarga (Gotra) dari Sapta (Maha) rsi, yang paling banyak disebut-sebut adalah:Grtsamada, Visvamitra, Vamadeva, Atri, Braradvaja,Visitha dan Kanva. Adapun penjelasannya adlah sebagai berikut:
1. Rsi Grtsamada
Maharsi Grtsamada adalah maharsi yang banyak dihbungkan dengan turunnya mantra-mantra Veda, terutama rgveda mandala II. Sejarah kehidupan maharsi Grtsamada tidak banyak diketahui, dari beberapa cacatan diketahui bahwa Grtsamada adalah keturunan dari Sunahotrakeluarga Angira.
2. Rsi Visvamitra
Maharsi visvamitra adalah maharsi yang kedua banyak disebut-sebut namanya dan dikaitkan dengan seluruh mandala IIIRgveda. Kitab Rgveda terdiri dari 58 Sukta setelah diadakan penelitian, tarnyata tidak semua sukta iu dikaitkan degan nama Visvamitra karena diantara mantra-mantra ada menyebutkan mahrsi lainnya adalah putra rsi Musika.
3. Rsi Vamadeva
Maharsi Vamadeva banyak dihubungkan dengan mandala IV kitab rgveda. Kurang banyak diketahui tentang riwayat maharsi ini didalam kitab-kitab Purana diceritakan bahwa Vamadeva sempat mengadakan dialog dengan deva Indra dan Iditi.
4. Rsi Atri
Maharsi Atri pada umumnya banyak dikaitkan dengan turunnya mantra-mantra mandala V Rgveda namun tidak banyak yang mengetahui tentang maharsi tersebut. Namun dinyatakan bahwa didalam keluarga Atri yang tergolong Brahmana ada beberapa nama dari keluarganya Atri seperti: Sayana, Udvalaka, Sona, Sukdeva, Gauragriva, dan lain-lain.
5. Rsi Bharadvaja
Rsi Bharadvaja adalah maharsi yang banyak dikaitkan dengan mantra-mantra dari mandalaVI ada beberapa yang diturunkan melalui Sahotra dan Sarahotra, adapun nama-nama lain, seperti Nara, Garagajisva, adalah nama rsi penerima dari keluarga Braradvaja, didalam kitab Purana dijelaskan bahwa Bharadvaja adalah putra Brihaspati.
6. Rsi Vasistha
Nama Vasistha sering digunakan sebagai nama keluarga kadangkala sebgai nama pribadi. Rsi Vasistha banyak dikaitkan dengan turunnya mantra-mantra mandala VII Rgveda, salah seorang keturunan rsi Vasistha adalah rsi Sakti yang juga terkenal sebagi penerima wahyu. Didalam kitab Mahabhrata nama Vaisitha disamakan dengan Visvamitra, didalam kitab Matsya Purana, dinyatakan bahwa rsi Vasistha mengawini Arundhati, saudara perempuan devarsi Narada. Dari padanya lahir seorang putra bernama Sakti.
7. Rsi Kanva
Maharsi Kanva merupakan maharsi penerima wahyu dan banyak dikaitkan dengan mandala VIII Rgveda. Mandala ini isinya bermacam-macam Sukta. Kava adalah nama pribadi dan juga nam keluarga mandala VIII dinyatakan diterima oleh maharsi Kanva atau merupakan wajyu yang diterima pleh keluarga Sakuntala, disamping rsi Kanva terdapat pula nama rsi lainnya seperti Kasyava putra Marici. Maharsi Kanva menpunyai putra bernama Praskanva. Nama-nama rsi yang lain juga dapat dijumpai dalam mandala VIII adalah: Gosukti, Asvasukti, Pustigu, Bhrgu, Manu, Vaivasvata Nipatithi, dan sebagainya.
I. Penutup
Demikian lah makalah ini saya buat, makalah ini untuk memenuhi persyaratn perkuliahan , dan mohon di koreksi apabila ada kesalahan dalam penulisannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Arifin,M.M, menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Golden Trayon Press, Jakarta 1986
- Honing, A.G.Jr, ilmu agama,PT. BPK. Gunung Mulia, Jakarta 1997
- Joesoep, Sou’yb,agama-agama besar didunia, PT. Totalido, Jakarta, 1996
- Titib, I Made, Pengantar Weda, Hanuman sakti, Jakarta, 1996
- Mukti, Ali Agama-agama Dunia, PT. Hanindita, Yogyakarta
- Putu, setia, suara kaum muda Hindu, PT. Mandiri,Jakarta, 1993
- Penulis Wakil Ketua Sabha Walaka PHDI Pusa
HINDUISME
Topik VI: Sumber-sumber pokok
Dipresentasikan pada tanggal 11 Oktober 2012
Di buat untuk memenuhi syarat perkuliahan
Mata kuliah Hinduisme
ENIS KHAERUNISA
1111032100021
FAKULTAS USHULUDDIN
PRODI PERBANDINGAN AGAMA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011
A. Pendahuluan
Kitab-kitab suci Hindu secara luas dalam dikelompokkan dalam 2 golongan. Pertama adalah Sruti (“itu yang didengar”) dan yang lain adalah Smriti (“itu yang diingat”). Kedua kelompok kitab-kitab suci ini dianggap “wahyu Tuhan” sama seperti semua kitab-kitab Injil dianggap mendapat inspirasi Tuhan.
B. Kitab Suci
Kitab suci Hindu ditulis dalam kurun waktu berabad-abad dan menggunakan berbagai bentuk tulisan. Kitab-kitab suci itu meliputi teks-teks filsafat yang sulit dimengerti sampai dengan legenda-legenda dan cerita-cerita kepahlawanan.
Kitab Hinduisme dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu kitab-kitab shruti dan kitab-kitab Smriti, adapun kpenjelasan kitab-kitab tersebut adalah:
1. Shruti
Shruti (yang didengar) di anggap sebagai yang suci yang berada di dalam asal usul segala sesuatu. Kitab-kitab Shruti berisi pujian-pujian kuno dari kitab Veda, yang ditulis pada akhir milenium kedua BCE dalam bahasa sansekerta, bahasa India kuno. Rig Veda, kitab yang paling kuno dan paling suci, adalah kitab yang berisi 1.028 puisi yang merefleksikan kehidupan pengembaraan bangsa aria yang berperang, yang bergembira karena terbitnya matahari setiap pagi dan yang merefleksikan heningnya malam sunyi.
Kitab-kitab Upanishad adalah bagian terakhir dari kitab-kitab Veda. Judul kitab itu mengacu pada murid yang duduk di laki-laki guru untuk mendapatkan kebijakan kitab-kitab Upanishad memuat 120 percakapan antara guru dan muridnya serta berisi semua ajaran Hindu yang paling penting-yaitu mengenai Brahman dan atman.
C. Smriti
Kitab-kitab Smiriti (yang diingat) adalah kitab-kitab suci tentang asal-usul manusia. Kitab suci itu berisi cerita rakyat yang cerita rakyat yang diceritakan oleh penutur-penutur terlatih. Ramayana, kitab yang memuat 48.000 baris puisi, memceritakan kisah rama dan shinta serta merpakan sumber ajaran dan nasihat spiritual yang besar bagi orang Hindu. Yakni setiap tradisi (ucapan, perbuatan, tulisan). Yang mengandung ajaran seseorang rishi (orang suci) atau ajaran seseorang acharya (guru) ataupun ajaran avatar (interaksi-ilahi) seumpama Krishna dan lainnya didalam himpunan Smiriti itu termasuk Brahmanas,panishads, mahabhara, Bhagavadgita, Ramayana, Purana, dll.
yang termasuk golongan kedua itu pada masa belakangan memalui wewenang-resmi dinyatakan kitab-suci guna mengahmbat sesuatu tantangan ataupun keraguan-raguan. Dengan begitu kedudukan Smiriti itu disamakan dengan kedudukan Sruti.
Kitab itu dipanggil dengan Brahma-sutras, yakni benang sulam melalui himpunan Brahmanas. Kitab-kitab berisikan komentar itu disusun oleh para acharyas pada abad-abad menjelang dan sesudah tahun masehi.
Disamping itu lahir kesusasteraan yang mengambil themanya dari keyakinan agamawi ataupun sesuatu ajaran agamawi mengenai masalah kehidupan dan kemasyarakatan, dan kitab-kitab golongan itu dipanggilkan dengan Brahmana-shastras. yang Termasuk dalam golongan Brama-shastras itu ialah kitab-kitab mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seumpamanya astronomi, ketabiban, logika, matematika, bahasa, dan lainnya.baikpun Brahama-sustras maupun Brahama-shastras itu termasuk kedalam himpunan kitab suci.
D. Kitab Brahmana dan Aranyaka
Berbeda dari naskah atau kitab Samhita, kitab brahmana disusun oleh para pendeta Brahmana sekitar abad ka-8 S.M kitab tersebut bukanlah puji-pujian kepada para dewa, tetapi merupakan kitab yang berisi keterangan-keterangan dari para tentang korban dan sasaji. Uraian-uraian didalamnya banyak yang membosankan dan sungkar dipahami padahal pikiran dasarnya justru sangat sederhana. Keterangan-keterangan tersebut disertai dengan mitos dan legende tentang manusia dan dewa dengan memberikan ilustrasi ritus-ritus korban. Pada bagian akhir kitab terdapat tambahan yang disebut kitab Aranyaka yang berisi tentang renungan sekitar masalah korban sehingga dianggap sakti. Karena itu mempelajarinya harus ditempat-tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia, yaitu ditengah-tengah hutan. Selain kitab brahmana masih ada lagi kitab lain yang pada intinya menguraikan masalah korban, cara melakukannya, mantra-mantra yang harus diucapkan dan cara pengucapannya.
Kitab-kitab tersebut denga kitab Wedanga yang merupakan hasil pemikiran para resi. Peraturan-peraturan yang di ajarkan didalam harus dipatuhi dan ditaati supaya korban tidak kehilangan daya kekuatan.
Isi kitab Wedanga dapat dianggap sebagai permulaan ilmu pengetahuan di India tentang fonetika paramasatra, etimologi, teori sanjak, ilmu perbandingan dan aturan-aturan pergaulan dalam masyarakat. Kitab paramasastra yang sangat terkenal adalah karya panini. Seorang pujangga yang hidup sekitar abad 5 S.M.
Kitab yang berisi pedoman tentang berbagai masalah kepercayaan tersebut Sutra, bahasanya padat, kalimatnya singkat termasuk Sutra Vadanga adalah kalpa Sutra atau Srauta-Sutra yang berisi tentang upacara korban besar dan Grhya-sutra, tentang orban kecil. Dharma-Sutra berisi hukum-hukum Hindu.
Dharma-Sastra termasuk kesusastraan Brahmana dan merupakan kitab undang-undang yang mengatur berbagai segi kehidupan manusia. Isinya bercampur dengan kitab lainnya, yaitu tentang pengetahuan dan dongeng-dongeng. Yang sangat terkenal adalah Manawa-Dharma-sastra yang menurut mitologi terkarang oleh manu (manusia pertama), kitab ini berpengaruh terhadap umat Hindu dewasa ini baik di India maupun di Indonesia. Kepercayaan-kepercayaan yang termuat dalam kitab wedangga dikenal dengan agama Brahmana.
Tingakatan pemikiran pada Brahmana (pemikiran Weda) merupakan tafsiran yang berupa prosa, sangat terinci dan isinya berupa kidung-kidung korban atau beberapa upacara lain. Brahmanas berarti “pertautan dengan brahman” tafsiran-tafsiran ini biasanya terdiri dari ajaran-ajaran yang memerintahkan untuk mengamalkan perbutan yang jelek. Semuanya tadi dinyatakan dengan Arthavada yang mengambil bentuk puji-pujian terhadap kebaikan (biasanya disebut Stuti) dan celaan atau kecaman terhadap yang buruk (disebut Ninda).
Dalam kitab brahman terdapat mitos dan legende kuno yang ditulis Purakalpa, Orakerti. Tulisan weda pada brahmana memperlihatkan adanya perkembangan cerita dan mitos tentang dewa-dewa, juga tenang kosmologi yang digambarkan dalam kidung-kidung, kitab Brahmana bercorak interpretasi esoterik dan simotik . masing-masing dewa da ritusnya tidak dapat dilepaskan dari tiga hal, yaitu adhiyajna (korban) dan adhayatman (yang bersifat mistis dan filosofis).
Dalam agama brahmana pemujaan terhadap matahari sangat ditekankan, kalau siwa dan beberapa kidungnya banyak tercantum dalam Yajur weda, maka kitab Aranyaka (bagian akhir kitab brahmana) berisi rangkaian doa yang panjang yang ditunjukan terhadap matahari, yang disebut Suryanamaskar
.
- Perubahan pada agama Brahmana
Dalam kitab yang sebelumnya, terutama pada Samhita dan mantra, selik beluk korban terhadap dewa belum duketahui. Penjelasan mengenai cara dan peraturan penyelengaraan korban baru ada dalam kitab brahmana, disertai tafsiran-tafsiran yang dilengkapi dalam kitab Wedanga, sejalan dengan itu maka pandangan terhadap penting tidaknya suatu dewa juga mengalami perubahan , beberapa dewa bahkan kemudian tidak memegang peranan penting lagi. Dewa waruna sebagai pengawas tata tertib kosmos berubah turun martabatnya menjadi dewa laut. Dewa-dewa yang kemudian muncul dalam agama adalah dewa Brahma dan Siwa. Yang dianggap jauh dari manusia dewa Mitra juga tidak pernah disebut-sebut lagi, Wisnu dalam perkembangan yang kemudian menjadi Prajapati. Dewa rudra menjadi sangat penting dan disebut dengan Siwa-Ruda
- Isi kitab brahmana terdiri atas dua bagian. Bagian pertama memberi uraian tentang peraturan-peraturan untuk persembahan, yang memberikan tafsiran tentang peraturan-peraturan didalam Weda. Yang kedua adalah sejenis kitab. Kitab hukum atau dharmasastra. Sebernarnya kitab itu ialah kumpulan patoka-patokan bagi seluruh kehidupan menurut patoka-patokan itu seluruh kehidupan harus di selenggarakan. Kitab-kitab itu membicarakan segala hal hingga dewasa ini kitab hukum manu.
Yakni manusia pertama menurut dongengan, ialah Manawadharmasastra masih di akui. Bahkan kitab-kitab hukum Bali dan Jawa Kuno didasarka pada kitab tersebut oleh hukum-hukum dan patokan-patokan itu diatur dan di pertajamlah perbedaan antara berbagai golongan yang merupakan penduduk India yang sangat tercampur dan bermacam-macam. Selain kasta-kasta yang dahulu telah disebut, terjadilah sekarang sejumlah kasta tercampur karena perkawinan tercampur. Tetapi orang tidak dapat naik kasta karena perkawinan, kalau turun kasta dapat, di luar kasta-kasta para paria, termasuk pula kedalam segala orang asing. Ketiga kasta yang tertinggi (brahmana, ksatria, waisya) boleh memakai kalung kasta dan membaca Weda dan mereka dipandang sebagai keturunan bangsa arya karena termasuk kedalam salah satu kasta (upananyana), seolah-olah berarti suatu kelahiran yang kedua, maka anggota-anggota ketiga kasta yang tertinggi disebut para dwiya artinya orang yang lahir dua kali.
- Ketiga bnyak di jumpai dalam kitab brahmana banyak keterangan tentang keadaan tertentu di dalam hidyp manusia atau du dalam alam dengan pertolongan mitologi.
E. Kitab ittihasa dan Puran
Belakangan ini ada perbincangan yang mempersoalkan apakah itihasa itu kitab suci Hindu ataukah tidak, Ada banyak kitab Ittihasa, namun dua yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabharata. Kitab suci dalam ulasan ini adalah kitab suci sebagai pegangan sebuah agama. Jadi, kalau kita berbicara di depan umum, apakah kitab suci agama Hindu itu? Jawabnya adalah Weda. Apakah Itihasa bukan kitab suci? Bukan! Apakah lontar bukan kitab suci? Bukan!
Kitab suci Hindu, sebagaimana kitab suci agama lainnya, adalah wahyu Tuhan. Dalam Hindu ini disebut Sruti. Weda adalah Sruti yang wahyunya diterima oleh tujuh resi agung. Weda terdiri dari empat (catur) yaitu Reg Weda, Yajur Weda, Sama Weda dan Atharwa Weda. Kemudian menyusul kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad yang dikelompokkan ke dalam Weda sehingga disebut Catur Weda Samhita. Selanjutnya ada kitab-kitab Sutra, Dharmasastra, Itihasa, Purana dan kitab-kitab Darsana digolongkan sebagai Susastra Hindu. Ada buku baru dari Prof. Made Titib yang mengulas masalah ini secara menarik, judulnya “Itihasa Ramayana dan Mahabharata (Viracarita).”
Weda dan Susastra Hindu itu dikelompokkan dengan menarik oleh Vatsyayasa dalam bukunya Nyayasutrabhasya. Garis besarnya begini: Weda adalah pedoman umum dan acuan dalam ritual (yadnya). Itihasa dan Purana menguraikan “sejarah dunia” dan tentang umat manusia. Weda adalah sumber utama dari wahyu Tuhan, sumber segala dharma dan hukum Hindu.
Itihasa dan Purana menguraikan ajaran dalam Weda dengan kisah-kisah menarik sehingga mudah untuk diterima umat. Karena begitu sulitnya mempelajari Weda, apalagi di masa lalu sarana untuk itu terbatas, maka para Rsi membuat kisah-kisah Itihasa, tujuannya tiada lain untuk menyebarkan isi Weda itu sendiri. Di zaman emas Kerajaan Majapahit di mana Hindu berkembang bagus, dalam kitab Sarasamuccaya dimuat sloka yang terjemahannya begini: “Veda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna melalui jalan Itihasa dan Purana sebab Weda akan takut pada orang-orang yang sedikit pengetahuannya.” Maksudnya adalah mulailah mengenal Itihasa dan Purana lebih dahulu, kemudian setelah pengetahuan menjadi bertambah, baru ke Weda. Sampai saat ini pun, meski kitab Weda sudah diterjemahkan dan dijual di toko buku, masih sulit mempelajarinya jika tidak didampingi seorang guru atau nabe.
Itihasa dan Purana memang ajaran suci, tetapi bukan kitab suci. Pertama, karena itu bukan wahyu Tuhan. Kedua, karena bentuk Itihasa adalah kisah, tentu ada kisah buruk dan kisah baik, yang buruk jangan dicontoh, yang baik dijadikan contoh. Ibarat seorang guru yang mengajar budi pekerti untuk anak usia Sekolah Dasar, pembelajaran lewat dongeng sangat dianjurkan. Weda sebagai wahyu Tuhan tentu tak memberi contoh yang buruk. Kitab suci semuanya mengajarkan dharma.
F. Pengertian Weda
Kata Veda dapat dikaji dari 2 pendekatan, yaitu etimologi dan etimologi dan semantik, kata Veda berasal dari kata kerja Vid yang artinya mengetahui dan Veda berarti pengetahuan. Dalam pengertian Semantik Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, pengetahuan tentang ritual, kebijaksanaan yang tinggi, pengetahuan spiritualsejati tentang kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci sumber ajaran Agama Hindu.
Veda dalam bentuk tunggal (dalam bahasa Inggris biasanya di tulis Veda) berarti pengetahuan suci sedang dalam bentuk jamaknya (dalam bahasa Inggris biasanya ditulis Vedas) berarti dalam pengertian luas yakni seluruh kitab Sruti terdiri dari 4 Veda (Mantra Samhita), kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan kitab-kitab Upanisad.
Tentang arti Veda, S, Radhakrishnan lebih jauh menyatakan “Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan dalam tahap kedua disebabkan oleh pengkajian yang lebih mendatail, sedang kebijaksanaan (Veda) adalah pengetahuan tahap awal (tngkatan yang pertama)yang diturunkan dari prinsip tak terciptakan.
9
Veda tidaklah susastra tunggal seperti Bhagavadgita atau sebuah himpunan sejumlah buku disusun dalam waktu tertentu seperti tripitaka, kitab suci agama Budha atau Biblenya pengenut Kristen, seluruh susastra yang muncul berabad-abad yang Islam diturunkan serta diteruskan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan. Pada saat tulisan belum ditemukan dan buku-buku belum tersedia ingatan manusia sangat kuat dan muncul tradisi untuk mengingat ini. Untuk dijadian pegangan umat manusa memerlukan waktu untuk memelihara susastra ini dan Veda sebagai dinyatakan adalah pengetahuan suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Wahyu ini dikuduskan sedemikian rupa dan menjadi standar pemikiran serta perasaan umat Hindu jadi Veda adalah pengetahuan dan kebijaksanaan suci dokument pertama dan tertua yang dimiliki oleh umat manusia.
Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa diyakini kebenarannya oleh suluruh umat Hindu. Kebenaran Veda tidak diragukan lagi. Veda adalah bahasa sangsekerta dan bahasa tetap juga digunakan sampai berkembangnya susastra Veda pada zaman sesudah Veda itu dihimpun dalam 4 himpunan yang disebut Samhita dan keempat Samhita itu dikenal dengan nama Catur Veda, yang terdiri: Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda.
Istilah atau nama Sansekerta sebagai nama bahasa ini di peopulerkan oleh seorang Maharsi Panini pada waktu itu mencoba menulis kitab Vyakarana, yaitu kitab tata bahasa Sansekerta yang terdiri dari 8 Adhyaya atau bab yang terkenal dengan nama Astadhyayi, yang mencoba mengemukakan bahwa bahasa yang digunakan dalam Veda adalah bahasa deva-deva yang
10
dikenal pula dengan nama daivivak yang artinya bahasa atau sabda devata.
Beberapa tahun kemudian atas jasa maharsi patanjali yang menulis kitab bahasa dan merupakan buku kritik terhadap karya Panini yang ditulis pada abad ke II S.M makin terungkaplah nama Daivivak untuk menamai bahasa yang digunakan dalam Veda termasuk pula digunakan dalam kitab Itihasa (sejarah), Purana (sejarah kuno), Smrti/Darmasastra (kitab-kitab hukum), Kitab-Kitab Agama (peganagn bagi Sampradaya atau Paksa seperti Saivagama, Tantrayana dan lain-lain, juga bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab Darsana (filsafat Hindu) dan susastra Hindu lainnya atau yang berkembang pada jaman sesudahnya.
G. Kedudukan Kitab Suci Veda
a. Veda, kitab suci, sumber ajaran agama Hindu
Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran Veda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya, dari kitab Veda (Sruti) mengalirlah ajaranya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti,Itihasa, Purana, Darsana, dan Tatwa-Tatwa yang kita warisi di Indonesia.
Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan didunia ini dan di akhirat nanti. Veda menuntun tindakan manusia sejak lahir sampai pada nafasnya yang terakhir. Ajaran Veda tidak terbatas hanya tuntunan hidup individual, tetapi juga dalam hidup masyarakat, berbangsa dan bernegara, bagaimana hendaknya seseorang atau masyarakat bersikap dan bertindak, tugas-tugas individu dan tugas-tugas umum sebagai anggota masyarakat, demikian pula bagaimana seorang rohaniwan bertingkah laku,
tugas dan kewajiban kepada negara atau pemerintah dalam mengemban tugasnya. Segala tuntunan hidup ditunjukan oleh ajaran Veda yang terhimpun dalam kitab Samhita, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad, maupun yang dijelaskan kembali dalam kitab-kitab susastra Veda atau susastra Hindu lainnya.
b. Veda, wahyu Tuhan Yang Maha Esa
Seperti halnya setiap ajaran agam memberikan tuntunan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia lahir dan batin dan diyakini pula bahwa jaran agama itu bersumber pada kitab suci, demikian pula umat Hindu yakin bahwa kitab sucinya itu merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Sruti artinya yang didengar. Veda sebagai himpunan sabda atau wahyu berasal dari: Apauruseya (yang artinya bukan dari Purusa atau manusia). Sebab para Rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai instrument (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran sucinya.
12
Terhadap pernyataan ini Svami Dayanada Sarasvati menyatakan: “Veda adalah sabdanya dan segala kuasanya bersifat abadi”, Svami Dayanandapun menambahkan: “Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atarvaveda berasal dan merupakan sabdanya, Tuhan Yang Maha Agung dan Sempurna, para Brahman yang memiliki kekuasaan yang menjadi dirinya sendiri, penuh kesadaran, supra empiris, dan sumber Svami Dayananda mengacu kepada Yajurveda berikut:
Tasmad yajnat sarvahuta
Rcah samani jajnire
Chandamsi jajnire tasmad
Yajus tasmad ajayata
(Yajurveda XXX.7.)
( dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepadanyalah umat manusia mempersembahkan berbagai Yajma dan dari padanya muncul Rgveda dan samavead)
Tentang para Rsi yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan menyampaikan secara lisan melalui tradisi kuno yakni sistem perguruan yang disebut “Parampara”, seorang filologist veda dan penyusun kitab Nikrukta bernama Yascacarya menyatakan:
Saksat krta dharman rsayo
Bubhuvuste’ saksat krta dharmabhya
Upadesena mantran sampraduh
Nirukta I. 19
(para rsi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan Dharma dengan sempurna, beliau mengajarkan hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan, yang belum merealisasikan hal itu).
Para rsi adalah mereka yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, karena kesuciannya pribadinya, mereka menerima sabda sucinya. Kata Rsi berasal urat kata drs yang artinya melihat atau memandang, dalam pengertian yang lebih luas berarti memparoleh atau menerima, oleh karena itu seorang Rsi disebut Mantradrasta (mantradrastarah itirsih).
Berdasarkan kutipan diatas para rsi adalah mereka yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, karena kesucian pribadinya mereka menerima sabda sucinya. Kata Rsi berasal darinurat kata drs yang artinya melihat atau memandang dalam pengertian yang lebih luas berarti memperoleh atau menerima oleh karena itu seorang Rsi disebut Mantradrasta (Mantradrastarah itirsih) ada beberapa cara seorang rsi menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, yaitu melalui:
1. Svaranada, yakni gema yang diterima para rsi dan gema tersebut berubah menjadi sabda atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa, kemudian wahyu itu disampaikan kepada siswanya didalam asrama (pasraman).
2. Upanisad, pikiran para rsi dimasuki oleh sabda Brahman sehinga pikiran para rsi itu berfungsi sebvagai sarana untuk menghubungkan Tuhan yang Maha Esa dengan para rsi tersebut.
3. Darsana atau Darsanam, yakni rsi atau orang suci berhadapan dengan Deva-deva seperti halnya Arjuna berhadapan dengan Deva Indra atau Siva dengan suatu pandangan gaib dengan mata Rohani.
4. Avatar, yakni manusia berhadapan dengan avatarnya seperti halnya Arjuna menerima wejangan sici Bhagavadgita dari Sri Krsna, Sang Purna Avatar.
c. Veda, sumber hukum Hindu
Maharsi Manu, peletak dasar hukum Hindu menjelaskan bahwa Veda adalah sumber dari segala Dharma atau hukum Hindu:
Vedo’khilo dharma mulam
Smrti sile ca tad vidam ,
Acarasca iva sadhunam
Atmanas tustir eva ca
Manavadharmasastra II.6.
(Veda adalah sumber dari segala Dharma, kemudian barulah smrti, disamping sila, Acara, dan Atamanastusti).
Berdasarkan kutipan diatas sumber-sumber hukum Hindu menurut kronologisnya, sebagai berikut
a. Veda (Sruti)
b. Smrti (Darmasastra)
c. Sila (tingkah laku orang suci)
d. Acara (tradisi yang baik)
e. Atmanastusti (keheningan hati)
d. Nama-nama lain kitab suci Veda
1. Kitab sruti, kitab Sruti menunjukan bahwa isi kitab itu merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang diterima oleh para maharsi seorangMaharsi yang artinya karena kesucian diri pribadinya mampu merekam sabda Tuhan Yang Maha Esa Yang disebut Aparuseya atau Tuhan yang Maha esa yang bukan berwujud manusia dalam susastra berbahasa jawa kuno.
2. Kitab Catur Veda. Nama Catur Veda dimaksudkan untuk mewujudkan bahwa Veda itu merupakan himpunan (Shamhita)
dari Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atarvaveda., tiga yang pertama diyakini umumnya jauh lebih tua, sesungguhnya Veda dapat dikelompokan dalam 2 jenis lainnya(Yajurveda, dan Samaveda) bersumber pada Rgveda.
3. Kitab Rahasya. Kata raharsya artinya bahwa Veda mengandung ajaran yang bersifat rahasia, yakni ajaran Moksa atau kelepasan. Ajaran Veda yang meliputi ajaran ketuhanan serta penciptaan alam semesta yang penuh misteri dan selalu menjadi pertanyaan serta usaha untuk bersatu dengannya merupakan tujuan tertinggi agama Hindu.
4. Kitab Agama. Kitab Agama menunjukan bahwa kebenaran Veda adalah mutlak dan harus diyakini kebenarannya. Kata Agama merupakan salah satu istilah Pramana yaitu tiga cara untuk menentukan kebenaran sesuatu, yaitu: Agama Pramana, Anumana, Pramana, dan Pratyaksa Pramana yang masing-masing berarti kebenaran yang disampaikan oleh orang-orang suci yang sangat diyakini kesucian pribadinya, kebenaran yang berdasarkan pertimbangan analisis yang sistematis dan kebenaran yang berdasarkan pengamatan.
5. Kitab Mantra. Kitab Mantraadalah nama lain dari kitab Veda, nama lain diberikan karena Veda berbentuk mantra atau puisi (syair) yang dapat pulandi lagukan. Mantra artinya ucapan yang keluar dari pikiran (manah) dan pikiran merupakan saluran membentuk rupa atau wujud yang dapat dibayangkan. Seluruh kitab sruti syairnya pada umumnya disebut mantra meliputi seluruh kitab-kitab samhite (Catur Veda), Brahmana, Aranyaka, dan kitab-kitab Upanisad di luar kitab tersebut syair-syairnya disebut Sloka, seperti kitab-kitab Itihasa lain.
H. Para RSI penerima wahyu Veda
1. Para Rsi penerima wahyu Veda
Veda pada mulanya diterima secara lisan dan disampaikan pula secara lisanmengingat Veda diturunkan itu belum dikenal tulisan, bahasa lisan lebih dulu digunakan baru kemudian ketika tulisan mantra-mantra Veda dituliskan kembali dan tentang penulisan kembali ini, secara tradisional berdasarkan kitab-kitab Purana, maharsi Vyasa atau Krsnadvaipayana yang menyusun atau menulis kembali ajaran Veda dalam 4 himpunan (samhita) dibantu oleh 4orang siswanya, yaitu Puhala, atau Paila, diyakini menyusun Rgveda, Vaisampayana, menyusun Yajurveda, Jaimini menyusun Samaveda dan Samantu menyusun Atharvaveda.
Seorang rsi adalah seorang rohaniawan, agamawan dan sekaligus seorang pemimpin, didalam kitab Purana pengelompokan rsi kedalam 3 kategori yaitu:
a. Devarsi,
b. Brahmarsi,
c. Rajarsi.
Didalam kitab Nirukta II.I, salah satu kitab Vedangga yang menyatakan:”bahwa para rsi ialah mereka yang dari uraian tentang Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa jadi rsi itu ada kaitannya dengan penerima mantra hal ini semakin jelas bila membaca sebuah Sukta (hymne) dalam Veda menyebutkan Rsi, Devata, dan Canda, sebagai contoh Sukta pertama (Pratamasukta) dan Rgveda yang terdiri dari rsi: Vismitra dan Madhucchandha, devada: Agni dan Canda: Gayatri.
Umat Hindu berpandangan dengan banyak rsi itu umat mendapatkan teladan, figur dan penampilannya menjadi panutan, wejangan-wejangnnya memberikan kesejukan hati dan kebahagiaan yang tiada tara, misal karya maharsi Vyasa yang memadukan unsur sejarah dan mitologi dalam karya besarnya Mahabrata dan kitab-kitab Purana senantiasa dinikmati oleh mereka yang kehausan untuk mereguk mantra suci ajaranya.
Disamping pengelompokan kedalam 3 kategori tersebut diatas, kitab Matsya dan Brahmanda Purana menyebutkan 35 pengelompokan rsi sebagai berikut:
a. Brahmarsi
b. Satyarsi
c. Devarsi
d. Srutarsi
e. Rajarsi
Pengelompokan tersebut adalah penyempurnaan dari pengelompokan sebelumnya dengan menambahkan 2 kelompok baru yaitu Satyarsi dan Srutarsi, dari istilah-istilah ini dapat dipahami bhwa nama-nama kelompok ini hanya bersifat relatif fungsional dihubungkan dengan fungsi dan sifat dari seorang rsi.
Didalam Manava dharmasastra disebutka ada beberapa jenis guru demikian pula halnya dengan Brahmana, seorang guru di sebut Acarya bila ia telah menguasai selurh isi Veda, termasuk Itihasa, Purana, Vedanga dan kitab-kitab Susastra Hindu lainnyasebaliknya seorang Upadhyaya hanya dianggap cukup bila ia menguasai Vedanga. Selanjutnya seorang rsi sebagai Battara (pelindung)
sekaligus seorang pemimpin baik dalam bidang kerohanian, politik dan pemerintahan dan bahkan menjadi panglima perang sebagai contoh adalah rsi Bhisma, Dorna dan sebagainya. Didalam kitab Brahmanda Purana disebutka adanya 9 Prajapati yaitu: Bhrgu, Angita, Pulastya, Puhala, Kdeva, Saksa, Atri dan Vasista.
Di antara Prajapati adapula yang disebut namanya didalam kitab Rgveda sebagai rsi dikaitkan dengan mantra-mantra dalam kitab
suci ini, adapun 4 kelompok lainnya (Brahma, Satya, Sruta, dan Rajarsi). Didalam Brahmanda Purana masing-masing disebutka berturut-turut Sonaka, sananda, Sanatkumara.
Adapun Saptarsi dan keluarga (Gotra) dari Sapta (Maha) rsi, yang paling banyak disebut-sebut adalah:Grtsamada, Visvamitra, Vamadeva, Atri, Braradvaja,Visitha dan Kanva. Adapun penjelasannya adlah sebagai berikut:
1. Rsi Grtsamada
Maharsi Grtsamada adalah maharsi yang banyak dihbungkan dengan turunnya mantra-mantra Veda, terutama rgveda mandala II. Sejarah kehidupan maharsi Grtsamada tidak banyak diketahui, dari beberapa cacatan diketahui bahwa Grtsamada adalah keturunan dari Sunahotrakeluarga Angira.
2. Rsi Visvamitra
Maharsi visvamitra adalah maharsi yang kedua banyak disebut-sebut namanya dan dikaitkan dengan seluruh mandala IIIRgveda. Kitab Rgveda terdiri dari 58 Sukta setelah diadakan penelitian, tarnyata tidak semua sukta iu dikaitkan degan nama Visvamitra karena diantara mantra-mantra ada menyebutkan mahrsi lainnya adalah putra rsi Musika.
3. Rsi Vamadeva
Maharsi Vamadeva banyak dihubungkan dengan mandala IV kitab rgveda. Kurang banyak diketahui tentang riwayat maharsi ini didalam kitab-kitab Purana diceritakan bahwa Vamadeva sempat mengadakan dialog dengan deva Indra dan Iditi.
4. Rsi Atri
Maharsi Atri pada umumnya banyak dikaitkan dengan turunnya mantra-mantra mandala V Rgveda namun tidak banyak yang mengetahui tentang maharsi tersebut. Namun dinyatakan bahwa didalam keluarga Atri yang tergolong Brahmana ada beberapa nama dari keluarganya Atri seperti: Sayana, Udvalaka, Sona, Sukdeva, Gauragriva, dan lain-lain.
5. Rsi Bharadvaja
Rsi Bharadvaja adalah maharsi yang banyak dikaitkan dengan mantra-mantra dari mandalaVI ada beberapa yang diturunkan melalui Sahotra dan Sarahotra, adapun nama-nama lain, seperti Nara, Garagajisva, adalah nama rsi penerima dari keluarga Braradvaja, didalam kitab Purana dijelaskan bahwa Bharadvaja adalah putra Brihaspati.
6. Rsi Vasistha
Nama Vasistha sering digunakan sebagai nama keluarga kadangkala sebgai nama pribadi. Rsi Vasistha banyak dikaitkan dengan turunnya mantra-mantra mandala VII Rgveda, salah seorang keturunan rsi Vasistha adalah rsi Sakti yang juga terkenal sebagi penerima wahyu. Didalam kitab Mahabhrata nama Vaisitha disamakan dengan Visvamitra, didalam kitab Matsya Purana, dinyatakan bahwa rsi Vasistha mengawini Arundhati, saudara perempuan devarsi Narada. Dari padanya lahir seorang putra bernama Sakti.
7. Rsi Kanva
Maharsi Kanva merupakan maharsi penerima wahyu dan banyak dikaitkan dengan mandala VIII Rgveda. Mandala ini isinya bermacam-macam Sukta. Kava adalah nama pribadi dan juga nam keluarga mandala VIII dinyatakan diterima oleh maharsi Kanva atau merupakan wajyu yang diterima pleh keluarga Sakuntala, disamping rsi Kanva terdapat pula nama rsi lainnya seperti Kasyava putra Marici. Maharsi Kanva menpunyai putra bernama Praskanva. Nama-nama rsi yang lain juga dapat dijumpai dalam mandala VIII adalah: Gosukti, Asvasukti, Pustigu, Bhrgu, Manu, Vaivasvata Nipatithi, dan sebagainya.
I. Penutup
Demikian lah makalah ini saya buat, makalah ini untuk memenuhi persyaratn perkuliahan , dan mohon di koreksi apabila ada kesalahan dalam penulisannya.
DAFTAR PUSTAKA
- Arifin,M.M, menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar, PT. Golden Trayon Press, Jakarta 1986
- Honing, A.G.Jr, ilmu agama,PT. BPK. Gunung Mulia, Jakarta 1997
- Joesoep, Sou’yb,agama-agama besar didunia, PT. Totalido, Jakarta, 1996
- Titib, I Made, Pengantar Weda, Hanuman sakti, Jakarta, 1996
- Mukti, Ali Agama-agama Dunia, PT. Hanindita, Yogyakarta
- Putu, setia, suara kaum muda Hindu, PT. Mandiri,Jakarta, 1993
- Penulis Wakil Ketua Sabha Walaka PHDI Pusa
Langganan:
Postingan (Atom)